Halaman

    Social Items

Seberapa banyak kalian mengetahui isi jagat raya ini?. Apa saja sih isi alam semesta ini, lalu dimana titik berakhirnya alam semesta?. Jika alam semesta ini memiliki batas lalu di luar batas tersebut ada apa?. Pertanyaan tersebut tentunya membuat kita bingung dan pusing memikirkannya. 

Sekitar 11 sampai 15 miliar tahun yang lalu semua materi dan energi di alam semesta ini terkonsentrasi ke satu titik daerah yang hanya berupa atom saja. Pada masa itu, materi, energi, ruang dan waktu belum lah ada. Lalu tiba-tiba, alam semesta mulai berkembang pada tingkat yang luar biasa dan materi, energi, ruang dan waktu muncul menjadi (Big Bang). Selama jagat raya berkembang, materi mulai menyatu menjadi awan gas, dan kemudian bintang dan planet.Tata surya kita terbentuk sekitar 5 milyar tahun yang lalu ketika alam semesta adalah sekitar 65% dari ukurannya sekarang. Hari ini, alam semesta terus berkembang.
Evolusi Jagat Raya
Konstelasi Galaksi Terjauh, pic:http://annesastronomynews.com/

Mengapa banyak ilmuwan percaya terhadap Big Bang?

Penerimaan teori ini oleh komunitas ilmiah didasarkan pada sejumlah pengamatan. Observasi ini mengkonfirmasi prediksi spesifik tentang teori Big Bang. Dalam bagian sebelumnya, kita belajar bahwa para ilmuwan menguji teori mereka melalui deduksi dan trial eror. Prediksi terkait dengan teori Big Bang yang telah diuji oleh proses ini adalah:

1. Jika Big Bang itu terjadi, semua benda dalam alam semesta harus bergerak menjauh dari satu sama lain. Pada tahun 1929, Edwin Hubble mendokumentasikan bahwa galaksi di alam semesta kita memang bergerak menjauh dari satu sama lain.
2. Big Bang harus meninggalkan "sisa-sisa gelombang cahaya" dari ledakan. Pada tahun 1960, para ilmuwan menemukan adanya radiasi latar belakang kosmik, yang disebut "afterglow" setelah ledakan Big Bang. Pengukuran yang paling akurat tentang radiasi kosmik ini datang pada November 1989, oleh satelit Cosmic Background Explorer (COBE). Pengukuran dari satelit ini menguji prediksi penting dari teori Big Bang. Prediksi ini menunjukkan bahwa ledakan awal yang melahirkan alam semesta seharusnya menciptakan radiasi dengan spektrum yang mengikuti kurva hitam. Pengukuran COBE menunjukkan bahwa spektrum radiasi kosmik bervariasi dari kurva hitam dengan hanya 1%. Tingkat kesalahan ini dianggap tidak signifikan.
3. Jika alam semesta dimulai dengan Big Bang, suhu ekstrim harus menyebabkan 25 persen dari massa alam semesta menjadi helium. Ini terbukti dari penelitian astronomi terbaru.
4. Materi di alam semesta harus didistribusikan secara homogen. Pengamatan astronomi dari Hubble Space Telescope  menunjukkan bahwa materi di alam semesta pada umumnya memiliki distribusi homogen.

Bagaimana alam semesta berakhir?

Kosmolog telah mendalilkan dua macam akhir masa alam semesta Jika alam semesta tak terbatas atau tidak memiliki tepi, itu harus terus berkembang selamanya. Jagat raya yang terbatas atau tertutup hancur ketika ekspansi berhenti karena gravitasi. Jagat raya berakhir ketika semua materi dan energi dikompresi ke dalam energi tinggi, kerapatan sangat tinggi. Skenario ini dinaamakn disebut Big Crunch. Beberapa teori telah menyarankan bahwa Big Crunch akan menghasilkan  Big Bang baru dan proses dari perluasan alam semseta akan dimulai kembali. Ide ini disebut teori Oscillating Universe.

Evolusi Jagat Raya

Coba kamu pergi keluar pagi hari dan pastinya kamu akan melihat matahari berada di ufuk timur kala terbit, lalu coba pergi ke luar siang hari maka kamu akan melihat matahari berada di atas kepala kamu dan pada sore hari maka kamu akan melihat matahari berada di ufuk barat untuk kembali menghilang dan sampailah kita di malam hari. Lalu apa maksud fenomena tersebut?. Itu adalah gerak semu harian matahari. Di bumi ini dikenal istilah gerak semu harian dan gerak semu tahunan matahari. Apa perbedaan kedua istilah tersebut dan mengapa bisa terjadi demikian?. 

Ada dua mekanisme yang menyebabkan terjadinya dua fenomena tadi yaitu rotasi dan revolusi bumi. Bumi adalah sebuah planet di tata surya dan melakukan dua pergerakan yaitu rotasi dan revolusi. Rotasi adalah gerak berputar bumi pada porosnya. Sumbu poros bumi adalah miring 66,6 derajat terhadap bidang ekliptika atau lintasan edar bumi atau 23,5 terhadap kutub langit. Rotasi bergerak dari timur ke barat dengan kecepatan 28.000 km per jam. Rotasi bumi mengakibatkan terjadinya beberapa fenomena seperti berikut:

1. Gerak semu harian matahari
2. Pergantian waktu siang malam
3. Perbedaan zona waktu
4. Adanya efek Corriolis
Perbedaan Gerak Semu Harian dan Tahunan Matahari
Gerak Semu Harian Matahari, pic:scanigaspenasa.blogspot.com
Revolusi adalah gerakan bumi mengelilingi matahari sambil berotasi. Satu kali bumi mengelilingi matahari dinamakan satu periode atau satu tahun (kalender Masehi). Revolusi bumi mengakibatkan beberapa fenomena berikut yaitu:

1. Gerak semu tahunan matahari
2. Perbedaan lama siang malam
3. Adanya pergantian musim
4. Adanya perubahan rasi bintang

Pada postingan ini saya hanya akan fokus dulu di gerak semu harian dan tahunan matahari. Jadi gerak semu harian matahari adalah gerakan matahari dari mulai terbit hingga terbenam selama satu hari. Kenapa dinamakan "semu" karena seolah-olah matahari yang bergerak padahal pada kenyataannya bumi lah yang bergerak (berotasi). Sedangkan gerak semu tahunan matahari adalah gerak peredaran matahari selama satu tahun. Pergerakan matahari dalam satu tahun ini berubah-ubah karena sudut rotasi bumi yang miring. Gerak semu tahunan matahari dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Perbedaan Gerak Semu Harian dan Tahunan Matahari
Gerak Semu Tahunan Matahari, pic:alasan-kenapa.blogspot.com

Perbedaan Gerak Semu Harian dan Tahunan Matahari

Dalam dunia sains sering dilakukan pemodelan untuk menjelaskan atau menggambarkan suatu fenomena fisis dimana fenomena yang riilnya tidak terjangkau oleh indra penglihatan karena dimensi fenomena tersebut sangat kecil (mikroskopis) atau sangat besar. Dalam fisika atom kita pernah mengenal model atom, dimana dimodelkan bahwa dalam struktur atom tersebut, inti atom dikelilingi oleh elektron-elektron. Model ini dapat diterima sampai saat ini. Keberadaan model ini sangat penting sebagai titik tolak untuk penyelidikan lebih lanjut. Jarang sekali model yang diajukan langsung mapan, melainkan bisa gugur atau secara bertahap mengalami penyempurnaan, yang disesuaikan dengan data-data empirik yang diperoleh dari penyelidikan, maupun dengan hukum-hukum alam yang telah diterima keberlakuannya. Jika model ini telah terbukti keabsahannya dan diterima oleh khalayak maka dapat meningkat statusnya menjadi teori. Dari model itu pun penyelidikan dapat dilanjutkan kearah penelusuran pembentukan fenomena tersebut.

Manusia sejak zaman dahulu mencari tahu tentang bagaimana jagat raya ini terbentuk. Hingga saat ini ada 2 anggap teori yang selalu diperdebatkan tentang hal tersebut yaitu Big Bang dan Steady State.

Teori Big Bang
Teori Big Bang adalah upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi pada awal alam semesta kita. Penelitian astronomi dan fisika telah menunjukkan tanpa keraguan bahwa alam semesta kita lakukan sebenarnya memiliki awal. Teori big bang adalah upaya untuk menjelaskan apa yang terjadi selama dan setelah saat "itu".

Menurut teori standar, alam semesta kita melompat menjadi ada sebagai "singularitas" sekitar 13,7 miliar tahun lalu. Apa yang dimaksud dengan "singularitas" dan darimana asalnya? Nah, jujur, kita tidak tahu pasti. Singularitas adalah zona yang menantang pemahaman kita tentang fisika. Mereka diperkirakan ada pada inti dari sebuah "lubang hitam." Lubang hitam adalah daerah tekanan gravitasi yang intens. Tekanan yang sangat kuat membuat materi masuk dalam zona kepadatan tak terbatas. (sebuah konsep matematika yang benar-benar mengejutkan pikiran). Zona kepadatan tak terbatas  ini disebut "singularitas." Alam semesta kita diperkirakan telah dimulai dari objek sangat kecil, jauh panas, jauh padat, "singularitas". Mana asalnya? Kita tidak tahu. Mengapa hal itu muncul? Kita tidak tahu.
Perbedaan Teori Big Bang dan Steady State
Animasi Big Bang, pic:http://www.mssl.ucl.ac.uk/www_astro/agn/bubble_anim.gif
Sesaat setelah ledakan (the "Big Bang"), meluas, dingin lalu membentuk berbagai macam galaksi, planet dan benda langit lain. Hal ini terus berkembang dan dingin untuk sampai saat ini dan kita hidup di dalamnya: makhluk yang luar biasa hidup di sebuah planet yang unik, mengitari sebuah bintang yang indah berkumpul bersama-sama dengan beberapa ratus miliar bintang di galaksi melonjak di dalam makrokosmos, yang semuanya adalah dalam alam semesta yang mengembang yang dimulai sebagai singularitas sangat kecil yang muncul entah dari mana untuk alasan yang tidak diketahui. Ini adalah teori Big Bang. Pendukung teori ini adalah Hwaking, Einstein dan Lemaitre.

Teori Steady State
Teori steady - state adalah pandangan bahwa alam semesta selalu berkembang tetapi menjaga kepadatan rata-rata yang konstan, materi yang terus menerus diciptakan untuk membentuk bintang baru dan galaksi pada tingkat yang sama bahwa yang lama menjadi tidak teramati sebagai konsekuensi dari meningkatnya jarak dan kecepatan mereka resesi. Menurut teori steady -state alam semesta tidak memiliki awal atau akhir dalam waktu; rata-rata kerapatan galaksi adalah sama.

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Sir James Jeans di sekitar tahun 1920 dan kemudian direvisi pada tahun 1948 oleh Hermann Bondi dan Thomas Emas. Ini dikembangkan lebih lanjut oleh Sir Fred Hoyle untuk menangani masalah yang timbul sehubungan dengan hipotesis big-bang. Pengamatan sejak tahun 1950 telah menghasilkan banyak bukti bertentangan dengan gambaran kondisi mapan dan mendukung model big -bang sehingga teori keadaan tetap ditolak.

Perbedaan Teori Big Bang dan Steady State

Banyak siswa yang bertanya tentang bagaimana sih caranya menghitung atau mengetahui jarak antar planet ke matahari?. Suatu metode sederhana yang dapat memudahkan dalam mengingat atau menentukan jarak rata-rata antara sebuah planet dengan Matahari dalam satuan astronimis, adalah hukum Titius Bode. Disebut demikian, karena metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Daniel Titius, seorang ahli Fisika dan Matematika berkebangsaan Jerman pada sekitar tahun 1766. Sedangkan Johann Bode, seorang astronom Jerman adalah pendukung kuat metode ini.

Bagaimana dapat menentukan jarak rata-rata antara suatu planet dengan Matahari dengan hukum Titius Bode? Titius Bode menandai jarak antara planet dan Matahari dengan angka-angka 0, 3, 6, 12, 24, ... dan seterusnya (menggandakan angka setiap bilangan kecuali untuk nol). 0 untuk Merkurius, 3 untuk  Venus,  6  untuk  Bumi,  dan  seterusnya.  Kemudian  setiap  bilangan  ini ditambah dengan 4, dan hasilnya dibagi dengan 10 (Tjasyono, 2006). Sebagai contoh, untuk Planet Merkurius (Planet terdekat dengan Matahari) jaraknya dari matahari (dalam SA) menurut hukum Titius Bode adalah :
Hukum Titius-Bode Tentang Jarak Antar Planet
Rumus Titius Bode, pic:http://blog.world-mysteries.com/
(0 + 4) : 10 = 0,4  SA
sedangkan untuk planet Venus, jaraknya dari Matahari adalah :
(3 + 4) : 10 = 0,7  SA
Sekarang berapakah jarak planet Bumi ke Matahari? Tanda untuk planet Bumi adalah 6, kemudian angka 6 ini ditambah dengan 4 dan hasil penjumlahan ini dibagi dengan 10, sehingga  jarak Bumi ke Matahari adalah :
(6 + 4) : 10 = 1  SA
dan seterusnya. Cukup mudah bukan ? Coba anda tentukan jarak rata-rata planet- planet lainnya dari Matahari dengan menggunakan hukum Titius Bode ini.

Hukum Titius-Bode Tentang Jarak Antar Planet

Matahari mulai terbentuk sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu saat awan debu raksasa, gas dan molekul debu di ruang angkasa mulai hancur. Gravitasi menyebabkan partikel debu terkondensasi di berbagai wilayah yang berbeda dengan sebagian partikel berakhir menjadi pusat awan yang berbentuk bola. 100 ribu tahun berlalu dimana bola awan di angkasa tersebut runtuh sampai akhirnya kenaikan suhu dan tekanan menyalakan inti awan kondensasi tersebut. Lalu setelah beberapa juta tahun, matahari muda terbentuk dan menjadi dewasa hingga saat ini.
Setiap detiknya, matahari mengubah sekitar 600 juta ton hidrogen menjadi helium untuk menghasilkan energi. Namun hidrogen matahari memiliki jumlah yang terbatas mungkin sekitar 5-7 milyar tahun saja selanjutnya akan kehabisan bahan bakar. Ketika hal tersebut terjadi matahari akan semakin panas dan menguapkan segala material di bumi. Satu milyar tahun dari sekarang, matahari akan membakar begitu dahsyat dan akan menguapkan lautan planet Bumi. Kekeringan luas akan melanda planet ini dan manusia akan berada beberapa jengkal saja dari kematian. Pertama, kita akan menyaksikan akhir kehidupan tumbuhan, matahari akan terlalu panas untuk proses fotosintesis, yang ada hanya akan membuat gersang dan kering tumbuhan. Tanpa makanan, hewan pemakan tumbuhan akan kelaparan. Tanpa hewan pemakan tumbuhan, hewan pemakan daging akan punah. dan tanpa air, tanaman, hewan dan tentu manusia akan mati.
Bagaimana Kiamat Terjadi di Bumi?
Matahari sumber energi utama bumi, pic:http://s.hswstatic.com/
Meskipun kita tidak bisa melihat hal tersebut terjadi, sekitar 3.5 milyar tahun dari sekarang, matahari akan begitu besar dan panas, sehingga pegunungan di bumi seluruhnya akan mencari. Pada titik ini atmosfer bumi akan melebihi Venus yaitu Campuran 96 persen CO2 dan pada tingkat rendah Nitrogen dan elemen lainnya. Dan setelah beberapa milyar tahun dari seduhan bubur panas CO2, Bumi akan ditelan oleh matahari menuju kematian.
Itulah gambaran singkat tentang proses berakhirnya planet bumi. Matahari merupakan sumber energi utama dan terbesar bagi bumi maka jika ia lenyap bumi pun akan ikut lenyap.

Bagaimana Kiamat Terjadi di Bumi?

Sejarah Pengelompokkan Planet Tata Surya- Coba berapa buah planet yang menjadi anggota tata surya kita? Hingga saat ini telah ditemukan sembilan buah planet sebagai anggota tata surya,  yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Untuk planet yang terakhir yaitu Pluto masih menjadi bahan perdebatan apakah tergolong Planet atau bukan. Beberapa ahli astronomi mempercayai bahwa Pluto merupakan sebuah satelit Neptunus yang terlepas. Sampai pada abad ke 17 baru dikenal 6 Planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Uranus baru ditemukan sekitar tahun 1781, Neptunus pada tahun 1846, dan Pluto pada tahun 1930 (Tjasyono, 2003).

Apakah planet-planet memancarkan cahaya sendiri? Matahari memancarkan sinar karena memiliki sumber cahaya sendiri. Oleh karena itu Matahari tergolong Bintang. Planet-planet tidak memiliki sumber cahaya sendiri. Planet-planet bersinar karena planet-planet memantulkan cahaya Matahari yang diterimanya.
Tata Surya (pic:http://www.skyandtelescope.com/)
Planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan teleskop. Karena itu kelima Planet ini telah dipelajari oleh para astronom selama ribuan tahun. Tiga Planet lainnya ditemukan setelah penemuan teleskop. Uranus ditemukan oleh Hershel pada malam hari tanggal 13 Maret 1781. Neptunus ditemukan berdasarkan perhitungan John Couch Adams dan Le Verrier, dan teramati pertama kali di langit pada tanggal 23 September 1846 oleh Johann G. Galle, asisten kepala observatorium Berlin. Pluto ditemukan  berdasarkan   perhitungan  ahli  matematika  yang  bernama    Parcival Lowell, dan teramati pertama kali di langit oleh Clyde W. Tombaugh pada tanggal
13 Maret 1930. Parcival Lowell dan Clyde W. Tombaugh bekerja pada observatorium Lowell, Arizona, Amerika Serikat.

Antara orbit planet Mars dan planet Jupiter terdapat sabuk (belt) Asteroid, yaitu kumpulan ribuan planet-planet kecil dan pecahan-pecahan yang asal usulnya hingga kini masih menjadi bahan perdebatan para ahli astronomi. Asteroid Ceres ditemukan pertama kali pada sekitar tahun 1801 oleh seorang astronom Italia bernama Piazzi. Benda tersebut hanya memiliki diameter sekitar 750 km,  sehingga terlalu kecil untuk disebut Planet. Dari pengamatan selanjutnya menunjukkan bahwa ternyata Asteroid ini merupakan keluarga besar yang jumlahnya 100.000 buah. Jika asteroid ini terlepas dari orbitnya, maka ia bisa mencapai bumi dan masuk atmosfer hingga menabrak permukaan bumi.

Bagaimana planet-planet dapat dikelompokkan? Terdapat tiga cara untuk pengelompokkan planet-planet, yaitu : 

Pertama, pengelompokkan planet atas dasar planet Bumi sebagai pembatas. Atas dasar pengelompokkan ini, terdapat dua kelompok planet yaitu planet Inferior dan planet Superior. Planet Inferior adalah planet-planet yang orbitnya terletak di dalam orbit planet Bumi. Anggota kelompok planet Inferior terdiri atas dua planet yaitu Merkurius dan Venus. Planet Superior adalah planet- planet yang orbitnya terletak di luar orbit planet Bumi. Yang termasuk kelompok planet Superior adalah planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.

Kedua, Pengelompokkan planet atas dasar lintasan Asteroid sebagai pembatas. Atas dasar pengelompokkan ini, terdapat dua kelompok planet yaitu kelompok planet Dalam (inner Planets) dan planet Luar (outer Planets). Planet Dalam adalah planet-planet yang orbitnya terletak di sebelah dalam lintasan Asteroid. Anggota kelompok planet ini terdiri dari planet Merkurius,  Venus, Bumi, dan Mars. Planet Luar adalah planet-planet yang orbitnya di sebelah luar lintasan Asteroid. Yang tergolong planet ini adalah planet Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.

Ketiga, Pengelompokkan planet atas dasar ukuran dan komposisi bahan penyusunnya. Atas dasar pengelompokkan ini, terdapat dua kelompok  Planet yaitu kelompok planet Terrestrial dan planet  Jovian. Planet Terrestrial adalah planet-planet yang ukuran dan komposisi bahan penyusunnya (batuan) mirip dengan planet Bumi. Yang termasuk kelompok planet ini adalah Merkurius, Venus, dan Mars. Kelompok Planet ini kadang-kadang disebut juga kelompok planet Kerdil, karena memang ukuran diameternya relatif jauh lebih kecil dibanding dengan diameter planet Jupiter. Ciri-ciri utama dari planet Kerdil ini adalah diameternya kecil, padat, dan kerapatan massanya tinggi, yaitu antara 4,2 hingga 5,5 gram/cm3. Planet kebumian disusun terutama (90 %) dari unsur-unsur Besi, Oksigen, Silikon, dan Magnesium. Planet ini juga biasanya memiliki angkasa yang tidak terlalu tebal, bahkan Merkurius tidak diselubungi angkasa. 

Planet Jovian, disebut juga planet Raksasa adalah planet-planet yang ukurannya besar dan komposisi bahan penyusunnya mirip dengan planet Jupiter, yaitu terdiri dari sebagian besar es dan gas hidrogen. Yang tergolong planet ini adalah Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Ciri-ciri utama dari planet Raksasa ini adalah diameternya besar, kurang padat, dan kerapatan massanya sangat rendah. Sebagai contoh, Saturnus memiliki rapat massa antara 0,7 hingga 1,6 gram/cm3. Angkasa planet Raksasa biasanya sangat tebal dan terdiri atas senyawa yang mengandung hidrogen. Planet Pluto tidak mirip dengan Planet Bumi maupun dengan Planet Jupiter, dan banyak astronom telah mengusulkan agar Pluto dikelompokkan sebagai sebuah Asteroid (Planet kecil).

Nah itulah sejarah awal mula adanya pengelompokkan planet dalam tata surya. 

Klasifikasi Planet Di Tata Surya Kita

Tata Surya merupakan sistem benda langit yang terdiri atas satu bintang (Matahari) dan beberapa objek benda lain yang mengitarinya. Salah satu objek
benda langit lain yang dominan dalam Sistem Tata Surya adalah Planet. Hingga saat ini jumlah planet yang masuk dalam Tata Surya adalah 8 setelah Pluto tersingkirkan. Berikut ini beberapa deskripsi singkat karakteristik setiap planet yang menghuni Tata Surya.
1. Merkurius
Merkurius merupakan planet yang paling dekat dengan matahari dan memiliki revolusi terpendek yaitu 88 hari mengitari matahari. Rotasi merkurius sangat lambat yaitu sekali putaran ditempuh dalam 59 hari. Merkurius merupakan planet terkecil dengan diameter 4.850 km. Karena sangat dekat dengan matahari, planet ini memiliki permukaan yang sangat panas hampir 700 derajat Kelvin. Jika dilihat menggunakan teleskop, Merkurius terlihat berwarna abu-abu mengarah ke oranye dan dihiasi banyak kawah-kawah bekas tumbukkan asteroid. Merkurius merupakan nama salah satu Dewa zaman kuno yang memiliki kecepatan gerak sangat tinggi.
2. Venus
Venus merupakan planet urutan kedua dari matahari dan salah satu tetangga Bumi. Diameter Venus hampir sama dengan Bumi yaitu 12.000 km. Venus memiliki atmosfer yang sangat tipis dan kaya akan CO2 dan Sulfur.  Mahluk hidup tidak dapat bernafas di permukaan Venus karena banyak racun. Atmosfer yang seperti ini mengakibatkan Venus berwarna cokelat kekuningan. Adanya efek rumah kaca yang besar di Venus juga mengakibatkan suhu permukaan Venus paling panas di Tata Surya yaitu mencapai 750 derajat Kelvin. Venus berotasi sangat lambat, 234 hari sekali rotasi. Nama Venus diambil dari Dewa Cinta era Romawi.
3. Bumi
Bumi merupakan planet ketiga dan satu-satunya yang dapat dihuni mahluk hidup. Diameter Bumi 12.000 km dan dari angkasa terlihat berwarna biru kehijauan. Bumi berbeda dengan planet lainnya karena memiliki berbagai macam kenampakan seperti udara yang mengandung banyak oksigen, air, tanah yang mampu menopang kehidupan di atasnya. Rotasi Bumi berlangsung selama 24 jam dan berevolusi selama 365 hari. Bumi memiliki satu satelit alami yaitu Bulan. 
4. Mars
Mars memiliki diameter yang lebih kecil dari bumi yaitu 6.790 km. Mars berevolusi 687 hari. Lama rotasi Mars hampir sama dengan bumi yaitu 24,6 jam. Mars memiliki atmosfer yang tipis yang sebagian besar tersusun atas CO2. Permukaan Mars sangat dingin dan tersusun atas kawah, gunung dan ngarai-ngarai. Planet Mars berwarna kemerahaan dan memiliki 2 satelit alami yaitu Phobos dan Deimos. Nama Mars diambil dari Dewa Perang era Romawi. Manusia saat ini sedang melakukan eksplorasi lebih jauh mengenai Mars dengan mengirimkan robot ke permukaan Mars.
5. Jupiter
Jupiter adalah planet terbesar dalam Tata Surya dengan diameter mencapai 142.980 km hampir 11 kali lebih besar dari Bumi. Jupiter mengorbit Matahari setiap 12 tahun sekali dan berotasi setiap 12 jam. Permukaan Jupiter adalah gas (dominan Hidrogen). Inti Jupiter diperkirakan tersusun atas Hidrogen padat dan batuan walaupun belum ada bukti otentiknya. Permukaan Jupiter banyak dihiasi oleh badai angin yang sangat besar. Gas-gas di permukaan Jupiter menghamburkan warna putih, merah, cokelat dan kuning. Hingga saat ini Jupiter terdeteksi memiliki 63 satelit alami. Jupiter merupakan nama Dewa Surga di era Romawi.
6. Saturnus
Saturnus merupakan planet yang terkenal dengan cincin yang melingkarinya. Saturnus tergolong planet raksasa dengan diameter 120.536 km, hanya sedikit lebih kecil dari Jupiter. Saturnus mengorbit Matahari setiap 12 tahun sekali dan berotasi dalam waktu 10 jam. Sama halnya seperti Jupiter, Saturnus tersusun atas gas dan intinya diperkirakan merupakan hidrogen padat. Permukaan Saturnus terlihat berlapis dengan warna  cokelat kekuningan dan sedikit rona merah. Cincin Saturnus diperkirakan tersusun atas es dan batu berukuran kecil. Saturnus memiliki 42 satelit alami hingga saat ini. Nama Saturnus berasal dari Dewa Pertanian era Romawi.
7. Uranus
Uranus memiliki diameter 51.118 km atau sekitar 4 kali Bumi. Uranus mengorbit Matahari dengan kecepatan lambat yaitu 84 tahun dan berotasi dalam waktu 17 jam. Permukaan Uranus tersusun atas gas yang tebal dan menghamburkan warna biru kehijauan. Uranus terdeteksi memiliki  21 satelit alami dan dikelilingi cincin tipis berjumlah sembilan unit. Uranus diambil dari nama Dewa Romawi yaitu kakek dari Jupiter.
8. Neptunus
Neptunus memiliki ukuran lebih sedikit kecil dari Uranus dengan diameter 49.500 km. Neptunus mengorbit Matahari dalam waktu 165 tahun sekali dan berotasi dalam waktu 16 jam. Permukaan Neptunus terlihat biru. Neptunus terdeteksi memiliki 13 satelit dan 9 cincin yang mengelilinginya. Neptunus diambil dari nama Dewa Laut Romawi.

Satu objek lain yaitu Pluto kini termasuk dalam golongan Planet Kerdil (Dwarf Planet). Pluto memiliki orbit yang memotong orbit planet lain sehingga ia dihapuskan dari golongan Planet. Orbit Pluto berbentuk oval dan berevolusi selama 248 tahun dengan waktu rotasi 6,4 hari. Pluto kemungkinan tersusun atas batuan.





Sumber dan Gambar:
diolah dari berbagai referensi
disini

Karakteristik 8 Planet Tata Surya

Jika anda pecinta dunia astronomi maka tentunya sudah familiar dengan istilah yang ditulis
pada judul postingan. Di kesempatan ini saya akan membagikan sedikit ulasan mengenai istilah paralaks bintang, aberasi cahaya dan gerak presesi. Ketiga istilah tersebut merupakan bagian dari dinamika Planet Bumi kita di alam semesta khususnya bukti bahwa Bumi melakukan revolusi bumi 
1. Paralaks Bintang
Jika kamu memandang bintang di langit maka akan tampaklah bintang-bintang seakan-akan bergeser pula membentuk lingkaran pada bola langit. Tentu saja sudut yang dibentuk oleh garis-garis antara bintang itu dengan proyeksinya pada bola langit sangatlah kecil karena jaraknya sangat besar antara bumi dan bintang tersebut. Paralaks bintang adalah sudut yang diapit garis penghubung dari bintang ke kedua ujung jari-jari lintasan bumi. Mungkin orang awam mengira paralaks bintang itu cukup besar namun sebenarnya besar paralaks bintang yang paling besar adalah 0,76'' atau 76 per seribu detik busur.Itulah paralaks bintang terkecil yaitu Alpha Centauri dalam Rasi Centaurus yang jaraknya 4,3 tahun cahaya. Jadi Alpha Centauri adalah bintang terdekat dengan Bumi . Selain Alpha Centauri, bintang lainnya memiliki jarak yang besar sekali dan tidak mungkin dilihat dengan mata telanjang kecuali dengan teleskop bintang modern.



2. Aberasi Cahaya
Ingatlah ketika kamu naik kendaraan atau kereta api yang sedang berhenti di sebuah stasiun kemudian turunlah hujan tetapi tidak ada angin. Kamu tutup jendela kaca maka tampaklah air hujan jatuh tegak lurus dari atas. Kemudian perlahan-lahan kereta bergerak dan semakin cepat maka kamu akan menemukan air hujan akan jatuh tidak tegak lurus lagi melainkan miring. Penyimpangan atau aberasi air hujan yang jatuh tersebut disebabkan oleh kereta api yang berjalan.
Peneropong bintang menggunakan teleskop mengamati sebuah bintang, sementara itu cahaya bintang menempuh perjalanan menuju tabung teleskop dan teleskop  turut bergeser dengan bumi yang berevolusi sehingga cahaya itu tidak jatuh pada titik yang semestinya melainkan menyimpang atau sesat ke belakang. Jadi aberasi cahaya  dapat diartikan sebagai perbandingan antara kecepatan revolusi dengan kecepatan rambat cahaya di udara yang besarnya 1/10.000 (kecepatan revolusi = 30 km per detik berbanding dengan kecepatan rambat cahaya di udara = 300.000 km/detik).



3. Gerak Presesi
Sebelum membicarakan mengenai gerak presesi marilah kita lihat sebuah gasing yang berputar. Dalam keadaan hampir berhenti sambil berputar, gasing akan bergoyang-goyang sehingga sumbu rotasi gasing itu dalam keadaan miring pada bidang tempatnya berputar. 
Jadi PRESESI adalah:goyangan sumbu bumi mengelilingi sumbu ekliptika dengan arah positif dalam periode 26.000 tahun.
akibat presesi itu, arah kemiringan sumbu bumi mengalami perubahan pula, walaupun perubahan itu tidak akan terasa dalam waktu 10 tahun. Tentu saja kemiringan bidang ekuator terhadap bidang ekliptika juga mengalami perubahan, sehingga titik aries tidak akan tetap pada kedudukannya. Jika pada tahun 1950 letak titik aries tepat pada rasi aries (itulah sebabnya dinamakan demikian), sekarang aries sudah mendekati rasi pisces dan 13.000 tahun lagi titik aries akan sampai ke rasi libra setelah berturut-turut melalui pisces, aquarius, capriconus, sagitarius dan scorpio (arah positif pula)
Jadi akibat presesi itu adalah:
1. perubahan letak kutub langit
2. perubahan letak titik aries
dalam pasal 10.6. dibicarakan bahwa matahari menjalani peredaran tahunan semu dengan arah negatif dalam waktu 1 tahun, yaitu dari titik aries sampai titik aries lagi.
Oleh karena titik aries bergerak dengan arah positif akibat presesi maka bergeser 1/26.000 x 360 derajat ke arah positif, mengertilah kita, bahwa matahari dari musim semi sampai musim semi berikutnya belumlah menempuh satu lingkaran penuh menjalani ekliptika. Matahari menempuh lingkaran penuh ekliptika (360 derajat) jika matahari bertolak dari sebuah bintang sejati sampai bintang sejati itu lagi.
Waktu yang diperlukan matahari dalam peredaran semu tahunannya mengelilingi bumi dari sebuah bintang sejati sampai bintang sejati itu lagi disebut satu tahun siderik lamanya: 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik (sidus=bintang).
Waktu yang diperlukan matahari dalam peredaran semu tahunannya mengelilingi bumi dari titik aries sampai titik aries lagi, disebut satu tahun tropik/matahari lamanya : 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik.




Sumber dan Gambar:
disini
disini
disini

Paralaks Bintang, Aberasi Cahaya dan Gerak Presesi

Rocket

Rp250.000,-   Rocket SEKALI INSTALL DI BLOGSPOT RATUSAN PRODUK SIAP HASILKAN UANG Senjata Para Pebisnis Affiliate TAHUKAH ANDA BAHWA - Siapa...

Subscribe Our Newsletter