Halaman

    Social Items

Pola gelap menunjukan adanya air yang mengalir bersama garam di permukaan Mars pada musim panas | Kredit: NASA

Astronomy Event - Mars, sebuah planet berwarna kemerahan yang permukaannya berupa padang pasir berkarat yang berdebu dan kering. Ini membuat kehidupan tidak mau hidup disini. Namun baru-baru ini, NASA menemukan suatu hal yang mengejutkan di planet merah tersebut.

Wahana luar angkasa bernama Mars Reconaissance Orbiter (MRO) memotret citra unik. Citra tersebut menunjukan pola garis yang surut dan pola kipas pada tebing curam di kawasan lembah dan kawah Mars. Pola itu seperti terbentuk oleh air yang mengalir menuruni lembah, atau yang disebut sebagai Reccuring Slope Lineale (RSL).

NASA pun menyimpulkan bahwa adanya air berbentuk cair mengalir di permukaan Mars.

Lebih lanjut lagi, ilmuwan meneliti spektometri di tebing-tebing Mars saat pola garis terbentuk sempurna. Mereka menemukan adanya garam terhidrasi seperti klorat dan perklorat. Ini juga menjadi bukti tambahan bahwa adanya air yang mengalir di Mars.

Keberadaan air di Mars memang sudah dicurigai sejak dulu. Misalnya, pada tahun 1970-an, NASA memotret wilayah yang diduga bekas sungai. Lalu, Mars Global Surveyor memotret tanda-tanda adanya air yang mengalir di bebatuan Mars. Bahkan NASA pernah mengungkap masa lalu Mars bahwa planet itu pernah memiliki samudra di belahan utara.

Sejauh ini, NASA telah menemukan bukti adanya air mengalir di kawah Hale, Palikir, Horowitz, dan di lembah Coprates Chasma. Kemungkinan, air ini mengalir pada saat suhu permukaan Mars lebih tinggi dari 23 derajat Celcius, yaitu pada musim panas. Kalian mungkin tidak mau meminum air ini, sebab air ini memiliki kandungan garam yang lebih tinggi daripada air laut Bumi.

Penemuan ini memunculkan pertanyaan baru. Ilmuwan masih belum tahu pasti apakah air yang mengalir ini berasal dari bawah tanah, atau berasal dari kondensasi di atmosfer. Yang lebih menarik lagi, kehidupan luar bumi dalam bentuk mikroorganisme berkemungkinan hadir dalam air tersebut.

Sejauh ini, kita masih mendapatkan pengetahuan kecil tentang air Mars ini. Walaupun begitu, kita sudah menguak keberadaan H20 pada planet yang tampak kering itu.

"Mars bukan planet kering seperti yang diduga sebelumnya," kata Jim Green, salah satu ilmuwan NASA.

"Mars kita berubah sekarang dan kita akan terus mendiskusikannya kemudian," kata John Bridge, profesor ilmu keplanetan di University of Leicester.

NASA Temukan Bukti Air Mengalir di Mars

Gambar permukaan Venus yang diambil oleh Venera 13

Astronomy Event - Venus sering disebut sebagai 'adik perempuan' Bumi atau kembaran Bumi. Sebutan itu bukannya tanpa alasan. Planet yang diselimuti atmosfer dan awan tebal berwarna oranye ini memiliki diameter yang hampir sepanjang diameter Bumi. Massanya pun hampir sama dengan Bumi. Namun dibalik awan tebalnya, Venus merupakan dunia yang sangat mematikan.

Mari kita cari tahu apa rasanya berjalan-jalan di permukaan Venus. Suasana permukaan Venus agak berbeda di Bumi. Jika di permukaan Bumi suhu selalu hangat dan udara kadang terasa sejuk, di permukaan Venus suhunya akan memanggang kita. Venus memiliki atmosfer yang didominasi oleh karbon dioksida. Ini menyebabkan efek super rumah kaca, suhu pun naik secara drastis hingga membuat Venus planet paling panas di tata surya (470 derajat Celcius) bahkan lebih panas daripada Merkurius (450 derajat Celcius). Suhu seperti itu dapat menyebabkan timah untuk meleleh.

Venus juga memiliki atmosfer yang sangat tebal hingga membuat tekanan udara di permukaan Venus 92 kali lebih besar daripada tekanan udara di permukaan laut Bumi. Jika kalian menggerakkan tangan kalian dengan cepat, kalian akan merasakan adanya gaya yang menahan tangan kalian. Bergerak di Venus hampir sama dengan bergerak di air.

Gravitasi di Venus sedikit lebih lemah daripada Bumi. Kalian akan merasa sedikit lebih ringan, namun mungkin lompatan kalian di Venus tidak akan setinggi lompatan pada saat di Bumi karena gaya gesek dengan atmosfer tebal Venus.

Hari di Venus akan berlangsung sangat lama. Rotasi Venus sangat lambat menyebabkan Venus membutuhkan 243 hari Bumi untuk berputar dalam 1 putaran. 1 tahun di Venus lebih cepat dari setahun di Bumi, yaitu sekitar 225 hari Bumi. Namun, dari matahari terbit, dibutuhkan waktu 117 hari Bumi untuk matahari terbit lagi di Venus. Karena Venus berotasi secara retrograde (berlawanan dengan arah rotasi planet lain atau searah jarum jam.), matahari akan terbit dari barat dan tenggelam di timur. Namun kita tidak akan bisa melihat matahari terbit atau tenggelam di Venus.

Venus memiliki atmosfer yang tebal. Karena hal itu, piringan matahari tak akan terlihat. Matahari akan terlihat sebagai sumber cahaya yang sangat samar terlihat dibalik awan tebal Venus. Langit Venus akan berwarna oranye. Ini karena karbon dioksida memiliki sifat yang mudah memantulkan cahaya merah, oranye dan kuning dibandingkan hijau, biru dan violet. Ekstingsi (penyerapan cahaya) atmosfer Venus sangatlah tinggi sehingga kita tidak bisa melihat satupun bintang saat malam hari. Langit malam di Venus hanyalah warna hitam yang membosankan.

Di Venus juga terdapat hujan. Mungkin enak jika hujannya air. Tapi di Venus, kalian akan disiram oleh hujan asam sulfat. Di Venus juga ada petir. Uniknya, petir tidak bisa mencapai permukaan karena panas yang berlebihan mencegah petir untuk sampai ke tanah. Gunung berapi di Venus pun juga menjadi masalah untuk hidup di Venus.

Jadi, jika kalian hidup di Venus kalian akan dipanggang, dicekik oleh udara, di siram hujan air keras, dibakar lava, dan disuguhkan langit yang penuh ancaman dan membosankan. Di Venus, kalian juga bisa mendapatkan masalah kesehatan karena perbedaan hari dan kondisi Venus. Tentunya, kita tidak akan bertahan lama jika kita berlibur di Venus. Venera 13 yang mendarat di Venus dan berhasil menghasilkan foto berwarna permukaan Venus hanya bisa bertahan 2 jam sebelum terpanggang dan di tekan oleh atmosfer.

Kalau kalian bisa ke luar angkasa, lebih baik jangan ke Venus.

Seperti Apa Rasanya Hidup di Venus?


Astronomy Event - Tata surya memiliki 8 planet, 191 satelit alami, jutaan asteroid, lebih dari 4.000 komet, 50 planet kerdil dan 1 bintang. Tapi, orang-orang dan para ilmuwan tetap mencari objek-objek baru di tata surya. Ada beberapa objek-objek hipotesis yang diajukan yang sampai sekarang belum diketahui pasti keberadaannya. Beberapa dari objek ini mampu menjelaskan keanehan-keanehan di tata surya. Apa saja objek-objek tersebut. Mari kita simak!

Phaeton

Phaeton merupakan planet yang berada di antara Mars dan Jupiter. Planet ini sudah tidak ada lagi sekarang karena sudah hancur karena tabrakan planet lain. Pecahan dari kedua planet inilah yang membentuk sabuk asteroid diantara Mars dan Jupiter. Teori Planet Phaeton ini dicetuskan oleh Heinrich Wilhelm Matthaus Olbers pada tahun 1802. Nama Phaeton itu sendiri berasal dari nama putra Helios, dewa Matahari dalam mitologi Yunani.

Neith

Pada tahun 1672, Giovanni Cassani melaporkan menemukan objek kecil dekat dengan Venus. Ia tidak membuat sebuah catatan dalam observasinya. Namun pada tahun 1686, Cassini melihatnya lagi dan akhirnya membuat pengumuman tentang kemungkinan adanya Bulan yang mengitari Venus. Namun pada zaman modern, sudah banyak observasi dan misi wahana luar angkasa ke sana, tapi keberadaan Neith si bulan Venus tak ditemukan. Neith sendiri berasal dari nama dewi dalam mitologi Mesir.

Para astronom bingung dengan keabsenan satelit alami Venus, karena Venus memiliki jarak yang cukup jauh dari Matahari sehingga mendukung terbentuknya bulan disekitar Venus. Ada teori yang menyatakan bahwa rotasi Venus yang tiba-tiba berubah arah dari berlawanan arah jarum jam menjadi searah jarum jam karena tabrakan objek berukuran besar. Sementara itu, bulan Venus mengorbit Venus berlawanan arah jarum jam. Karena arah orbit bulan Venus dan arah rotasi Venus yang berlawanan, bulan Venus sedikit demi sedikit ditarik kearah Venus dan bertabrakan dengannya.

Antichton

Antichton berasal dari bahasa Yunani yang berarti "kebalikan dari Bumi". Berasal dari bahasa Yunani karena teori ini berasal dari Yunani Kuno. Seorang filsuf bernama Philoaus mengemukakan bahwa ada sebuah planet mirip Bumi yang mengitari Matahari dengan jarak sama dengan jarak Bumi ke Matahari (1AU atau 150 juta km) tapi berada 180 derajat. Karena jaraknya ke Matahari sama dengan jarak Bumi ke Matahari, maka planet ini selalu berada 180 derajat dan selalu tidak terlihat dari Bumi karena terhalang Matahari.

Teori ini didukung oleh Phytagoras, ahli matematika Yunani terkenal. Phytagoras mendukung teori ini karena teori ini bisa menjelaskan bayangan hitam yang muncul di Bulan saat gerhana Bulan. Namun, saat banyak wahana luar angkasa diluncurkan jauh dari Bumi atau ke planet lain, Planet Antichton tak terlihat. Bayangan hitam saat gerhana bulan tentu adalah bayangan Bumi.

Planet Antichton banyak dimasukkan kedalam cerita dan film fiksi ilmiah seperti Krypton---kampung halaman Superman, Terra-Nova, dan Gor---planet dalam novel karya  John Norman.

Bulan kedua Bumi
Ilustrasi Bumi memiliki dua Bulan. Bulan kedua berada di sisi kiri atas gambar

Bayangkan, bagaimana jika Bumi memiliki dua bulan? Pastinya akan spektakuler kan. Georg Waltemath percaya bahwa Bumi mempunyai bulan kedua. Pada tahun 1898, Waltemath mengemukakan teori bahwa ada Bulan kedua yang mengitari Bumi. Bulan ini tidak bisa terlihat oleh mata dan teleskop karena memantulkan sangat sedikit sinar matahari. Menurut Watltemath, bulan kedua ini memiliki diameter 700 km dan jarak ke Bumi sekitar 1,03 juta km. Bulan ini memiliki periode orbit 119 hari dan periode sinodisnya 177 hari.  Dengan berbagai observasi yang teliti dan perjalanan wahana luar angkasa, tidak ditemukan Bulan kedua Bumi.

Alasan Bumi tidak memiliki bulan kedua mungkin karena tarikan gravitasi Bulan yang memengaruhi objek lain yang mengitari Bumi secara signifikan sehingga orbit bulan kedua tidak stabil dan akan meninggalkan Bumi atau menabrak Bumi atau Bulan. Itu juga alasan mengapa Bumi tidak memiliki cincin

Tapi Bumi pernah memiliki bulan kedua. Pada bulan September 2006, para astronom menemukan asteroid bernama 2006 RH120. Asteroid ini mengorbit Bumi selama 13 bulan sebelum meninggalkan Bumi. Asteoid ini akan kembali ke orbit Bumi 21 tahun kedepan.

Theia

Theia adalah planet yang dulu mengitari Matahari namun akhirnya menabrak Bumi 4,4 miliar tahun lalu. Tabrakan tersebut menyebabkan triliunan batuan meluncurkan ke luar angkasa dan setelah sekian lama membentuk cincin. Dari cincin itu terbentuk Bulan. Ini adalah teori yang disetujui oleh sebagian banyak ilmuwan dan menjadikan Theia objek hipotesis paling diterima dalam ilmu pengetahuan. Theia adalah nama dari ibu dewi Bulan dalam mitologi Yunani.

Vulcan


Pada tahun 1859, sebuah teori yang cukup mengejutkan lahir: Ada sebuah planet mengorbit Matahari lebih dekat daripada Merkurius. Teori ini lahir karena anomali orbit Merkurius yang tidak bisa dijelasknan Hukum Gravitasi Newton. Ilmuwan berpikir bahwa biang keladinya adalah Vulcan. Namun pada awal abad ke-20, anomali orbit Merkurius dapat dijelaskan dengan Hukum Relativitas Einstein.

Kehadiran planet ini tidak bisa sepenuhnya dibantah karena untuk mencari objek yang sangat dekat dengan Matahari. Observasi secara langsung dapat membuat kerusakan pada alat-alat observasi dan para pengamat itu sendiri. Oh ya, nama Vulcan berasal dari nama dewa api dalam mitologi Yunani.

Nemesis

Kepunahan massal merupakan mimpi buruk bagi kehidupan. Namun, ilmuwan bingung dengan kepunahan masaal karena memiliki sebuah pola. Kepunahan massal di Bumi terjadi setiap 26 juta tahun sekali. Alam tidak mungkin menyebabkan kepunahan massal dengan pola seperti ini. Dari situlah sebuah teori baru muncul. Teori itu mengatakan bahwa Matahari kita memiliki bintang kembar yang berarti tata surya semacam sistem bintang ganda. Bintang kembar ini dinamakan Nemesis, bintang ini berupa bintang katai merah atau bintang katai coklat.

Setiap 26 juta tahun sekali, Nemesis memasuki Awan Oort, mengganggu orbit komet dan asteroid. Sebagian terlempar ke arah tata surya. Beberapa asteroid dan komet akhirnya menabrak Bumi dan menyebabkan kepunahan massal. 

Bintang ini dikatakan terlalu redup untuk dilihat dengan mata telanjang dan bahkan teleskop. Walaupun begitu, bintang katai merah dan katai coklat memancarkan banyak sinar inframerah, karena itu dibuatlah teleskop WISE. Teleskop WISE (Wide-field Infrared Survey Explorer) merupakan teleskop yang dirancang khusus agar bisa melihat cahaya inframerah. Teleskop WISE sudah mencari bintang Nemesis di seluruh sudut di angkasa namun hasilnya nihil. Kehadiran bintang ini pun terbantahkan.

7 Objek Hipotesis di Tata Surya

Merkurius

Astronomy Event -  Merkurius adalah planet terdekat dengan Matahari di tata surya kita. Planet ini memiliki permukaan yang berwarna abu-abu dan banyak kawah, seperti Bulan. Namun Planet ini lebih besar dari Bulan. Bagaimana jika kita mengirim manusia ke Merkurius? Bagaimana rasanya hidup di Merkurius?

Merkurius berada pada jarak rata-rata sekitar 57 juta km. Karena jaraknya yang sangat dekat (secara relatif tentunya), maka suhu di Merkurius sangat panas, tapi suhu di Merkurius bervariasi. Saat siang hari, suhu permukaan Merkurius bisa mencapai 427 derajat Celcius. Dan pada malam hari, suhu permukaan anjlok hingga -170 derajat Celcius, hampir sedingin suhu di Saturnus. Jadi kalian akan terpanggang di siang hari dan beku di malam hari, bahkan baju luar angkasa tidak akan melindungi kita dari suhu ekstrim Merkurius. Tapi kalian tidak akan terbakar di siang hari di Merkurius karena tidak ada atmosfer atau oksigen di Merkurius.

Tapi kalian akan terlindungi dari angin matahari dan radiasi kosmik yang mematikan, karena Merkurius memiliki medan magnet pelindung yang menangkis radiasi dari luar angkasa. Medan magnet ini ada karena Merkurius memiliki inti luar yang cair. Inti Merkurius mengisi 2/3 volume Merkurius.

Merkurius memiliki rotasi yang lambat. Merkurius memiliki kala rotasi 57 hari dan kala revolusi 88 hari. Tapi di Merkurius, waktu dari matahari terbit ke terbenam adalah 86,5 hari, sehingga 1 hari di Merkurius sama dengan 173 hari. Ini disebabkan karena perbandingan antara kala rotasi dan revolusi Merkurius yang kecil.

Karena kita terbiasa dengan hari di Bumi (1 hari = 24 jam), maka akan terjadi masalah dalam tubuh kita jika kita berada di Merkurius, seperti pusing, mual, gangguan penglihatan, dll.

Gravitasi Merkurius hanya 1/3 kali gravitasi Bumi. Ini dapat menyebabkan menyusutnya massa tulang dan otot secara signifikan dalam jangka waktu lama.

Lalu ada masalah air. Kita tidak akan hidup lama jika tidak ada air. Wahana MESSENGER menemukan adanya air dalam bentuk es di kutub utara. Es ini berada di daerah yang perpentual shadow, artinya daerah dimana matahari tidak pernah terlihat di langit, sehingga es-es ini tetap bertahan di permukaan. Es-es ini sangat sedikit sehingga tidak bisa menjadi sumber air.

Jadi, ya. Merkurius adalah planet yang sangat panas, sangat dingin, memiliki sumber daya alam yang sangat langka, dan akan membunuh setiap kehidupan yang berada di permukaannya. Karena itu, planet ini menjadi pilihan yang buruk untuk menjadi destinasi para astronot. Jangan pergi ke planet itu!

Bagaimana Rasanya Hidup di Merkurius?

Proses Mars menjadi planet yang layak huni


Astronomy Event - Populasi manusia terus meningkat. Diperkirakan Bumi dapat menampung 10 miliar manusia agar tetap stabil. Maka dari itu, di masa depan kita sudah bisa hidup di luar Bumi seperti kota luar angkasa. Namun bagaimana jika di Mars?

Untuk hidup di Mars, kita bisa membuat kota yang memiliki atmosfer seperti di Bumi dan dilindungi dengan kubah transparan seperti gambar dibawah.


Daripada membuat kota seperti itu, bagaimana jika kita membuat Mars layak huni?

Merubah Mars menjadi planet yang layak huni bagi kita disebut sebagai terraformasi. Untuk menterraformasi Mars, kita harus menambal apa yang membuat Mars tidak layak huni. Mars memiliki atmosfer yang sangat tipis, tebal atmosfer Mars hanya 1/100 tebal atmosfer Bumi. Atmosfer Mars didominasi oleh karbon dioksida. Atmosfer Mars 0,1% nya adalah oksigen sehingga tidak begitu baik untuk kita. Selain itu suhu rata-rata di Mars adalah -60 derajat Celcius, namun di ekuator bisa mencapai 20 derajat Celcius.

Mari kita pecahkan masalah atmosfer dan suhu di Mars. 

Ilmuwan mempunyai 4 cara untuk mempertebal atmosfer dan menaikkan suhu di Mars.

Sublimasi karbon dioksida
Metode ini digunakan dengan membuat sebuah pabrik di Mars. Pabrik ini akan mengumpulkan karbon, klorin dan sulfur di tanah Mars dan membuat gas rumah kaca seperti CO2 lalu menyebarkannya ke atmosfer Mars. Saat suhu naik 4 derajat akibat gas rumah kaca yang kita buat, es kering (CO2 beku) di kutub Mars dan tanah Mars berubah dari padat menjadi gas (menyumblim). Ini akan menjadi umpan balik positif, karena pada saat es kering menyumbilm, maka suhu Mars akan makin meningkat yang membuat lebih banyak es kering yang menyumblim. 

Jika cara ini berhasil, maka tekanan atmosfer Mars akan naik hingga 0,3 atm (0,3 kali tekanan udara di permukaan laut Bumi.), hampir sama dengan tekanan udara di puncak Gunung Everest (0,333 atm). Namun atmosfer ini masih belum bisa dihirup manusia karena karbon dioksida masih mendominasi. Maka dari itu kita akan gunakan fitoplankton dan sianobakteri untuk merubah karbon dioksida menjadi oksigen.

Menurunkan albedo Mars
Albedo adalah kekuatan pantulan dari sebuah planet atau objek. Jika albedo meningkat, maka planet akan memantulkan lebih banyak sinar matahari dan sebaliknya. Jika kita menurunkan albedo Mars, maka Mars akan menyerap energi dari sinar matahari lebih banyak. Akibatnya, suhu Mars meningkat yang berujung pada sublimasi kutub Mars. Lalu, kita gunakan sianobakteri untuk membuat oksigen.

Untuk menurunkan albedo Mars, kita bisa menyebarkan debu-debu dari objek gelap seperti bulan Mars, Phobos dan Deimos, atau kita bisa mengembangbiakan mikroorganisme gelap yang bersifat extremophile (dapat hidupan di lingkungan ekstrem),

Cermin orbital
Jika kita membuat sebuah cermin di orbit Mars lalu mengarahkan sinar matahari ke kutub Mars, maka es kering di Mars akan menyumblim dan memanaskan Mars. Setelah itu kita gunakan sianobakteri untuk merubah CO2 menjadi O2. Cukup simpel, tapi sulit dalam pembuatan cerminnya. Cermin yang dibutuhkan untuk menyumblimkan es kering di kutub Mars harus memiliki diameter 200 km.

Namun selain oksigen, kehidupan butuh nitrogen untuk pertumbuhan. Nitrogen juga penting untuk mencegah adanya pembakaran yang disebabkan reaksi kimia dengan oksigen. Karena itu, kita bisa menggunakan cara yang selanjutnya.

Menabrakan Mars dengan asteroid Sabuk Kuiper
Asteroid di Sabuk Kuiper kaya akan amonia (NH3). Jika kita bawa asteroid ini ke Mars dengan menggunakan roket pendorong, lalu kita tabrakan ke Mars, amonia dalam asteroid akan terlepas. Kita bisa gunakan bakteri tertentu yang dapat merubah amonia menjadi nitrogen. Selain bisa dirubah menjadi nitrogen, ammonia bisa menjadi gas rumah kaca yang kuat yang dapat menaikkan suhu Mars. Es kering di kutub Mars akan menyumblim mempertebal atmosfer dan menaikkan suhu lebih tinggi lagi.


Setelah masalah atmosfer dan suhu selesai, kita harus memecahkan masalah air. Tanpa air, tumbuhan, hewan dan kita tidak akan hidup kan? Kita bisa memecahkan masalah ini dengan mengebor tanah Mars dan menyedot air yang mungkin tersembunyi di dalam tanah Mars atau membawa air dari Bumi.

Ada juga masalah ozon yang harus dipecahkan. Ozon (O3) penting untuk menyerap sinar ultraviolet agar tidak mencapai permukaan. Tentu ini penting agar kita terhindari dari kanker dan masalah kesehatan lainnya. Namun ozon bisa dihasilkan dari oksigen secara alami. Molekul oksigen akan dipecah oleh sinar UV menjadi 2 atom oksigen, lalu atom okesigen bergabung dengan molekul oksigen lain membentuk ozon.

Dan ada penghalang keras yang sulit dihancurkan, masalah medan magnet. Mars memiliki atmosfer yang begitu tipis karena tidak adanya medan magnet. Medan magnet berguna untuk melindungi planet dari radiasi matahari dan radiasi kosmik yang mematikan. Tanpa medan magnet, atmosfer akan terkikis oleh angin matahari.

4 miliar tahun lalu, Mars memiliki medan magnet sehingga membuat ilmuwan berpikir bahwa pada saat itu Mars adalah planet yang cukup layak huni. Namun inti Mars yang tadinya berbentuk cair berubah menjadi padat. Tanpa adanya inti yang cair, medan magnet pun tak akan ada dan Mars pun berubah menjadi planet merah yang dingin dan kering.

Tidak ada cara yang pasti untuk mencairkan inti di Mars. Namun apakah mungkin kalian tahu caranya? Jika ya, comment pos ini.

Bisakah Kita Membuat Mars Layak Huni?

Cincin Phoebe

Astronomy Event - Bagi sebagian orang, Saturnus adalah planet paling indah di tata surya karena cincin tebal dan indah miliknya. Namun apakah kalian tahu bahwa planet yang dapat mengapung di air ini memiliki cincin yang tak terlihat. Cincin tak terlihat ini adalah Cincin Phoebe. Dan cincin ini sangatlah besar.

Pada Oktober 2009, Teleskop Luar Angkasa Spitzer milik NASA. Dinamakan Cincin Phoebe karena berada dekat dengan orbit Phoebe, sebuah asteroid yang menjadi bulan Saturnus setelah terperangkap gravitasi Saturnus. 

Cincin ini memiliki diameter dalam 128 radius Saturnus dan diameter luar cincin 207 radius Saturnus dan cincin ini memiliki tebal 40 radius Saturnus. Untuk perbandingan jika cincin Saturnus adalah cincin di jari, maka Cincin Phoebe adalah ban truk........ ban truk raksasa. Dan jika cincin ini dapat terlihat dengan mata telanjang, di Bumi, Cincin Phoebe terlihat 2 kali lebih lebar daripada Bulan di langit.

Kecurigaan kita akan kehadiran cincin ini berasal dari salah satu bulan Saturnus, Iapetus. Iapetus sangatlah putih tapi hanya di sisi yang menghadap Saturnus. Sisi yang menjauhi Saturnus berwarna keabu-abuan seperti bola yang kotor. Ilmuwan menduga ada sebuah gugusan partikel yang mengililingi Saturnus di luar orbit Iapetus. Partikel-partikel debu dari gugusan partikel menempel pada Iapetus membuat bola salju putih raksasa itu kotor. Karena Iapetus seperti Bulan---satu sisinya terus mengahdap Saturnus, maka sisi yang menjauhi Saturnus yang terkotori oleh gugusan partikel debu. Gugusan partikel debu ini yang sudah terkonfirmasi sebagai Cincin Phoebe.

Cincin ini memang luar biasa lebar, tapi jarak partikel cincin satu dengan partikel lainnya di cincin ini sangatlah jauh. Sebuah volume yang sama dengan volume gunung di Cincin Phoebe hanya memiliki belasan partikel cincin.

Ternyata seluruh keindahan dan kemegahan alam semesta tidak selalu terlihat ya?

Saturnus Ternyata Mempunyai Cincin Yang Luar Biasa Besar

Dengan keberhasilan penelitian ini Mars semakin siap untuk dieksplorasi lebih jauh.


Tampilan peta Mars di Google Maps. | Google

Astronomy Event - Peradaban manusia memiliki cerita yang amat panjang dalam mengetahui secara detail segala hal tentang Planet Mars. Sejak lebih dari empat abad yang lalu manusia memulai penelitiannya mengenai tetangga Bumi ini. Selama 16 tahun terakhir kendaraan ruang angkasa Mars Global Surveyor, Mars Express, Mars Odyssey, dan Mars Reconnaissance Orbiter bahu-membahu bersama dengan tim dari United States Geological Survey (USGS) di Bumi untuk memetakan secara lebih rinci dataran Mars.

Hasilnya, 14 Juli lalu USGS resmi merilis data lengkap mengenai topografi Planet Merah ini. Hasil survei mendalam ini bukan hanya berisi mengenai ketinggian suatu daratan tapi juga zat yang membentuk daratan tersebut. Dalam hasil riset inilah semakin terkuak bahwa selain bentuknya yang menyerupai Bumi, zat-zat di dalamnya sangat memungkinkan untuk terbentuknya suatu kehidupan di Mars.

"Seluruh wahana antariksa kami sudah berhasil membantu peneliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi Mars, mulai dari material hingga proses pembentukan suatu datarannya," ujar Kenneth Tanaka, salah satu peneliti di USGS.

Penelitian ini juga mematahkan pandangan soal umur dan luas dataran utama Planet Mars. Menurut penelitian terbaru ini, Mars mulai terbentuk sejak 4,1 miliar sebelum Masehi. Selain itu, para peneliti USGS pun mengklaim bahwa Mars telah mengalami perubahan iklim yang cukup besar sehingga keberadaan sementara air permukaan, air tanah, dan es telah ditemukan.

Langkah selanjutnya, peneliti akan bekerjasama dengan badan antariksa Amerika Serikat (NASA) mengirimkan dan mendaratkan kendaraan penjelajah di Mars. Temuan-temuan terbaru ini berguna untuk menentukan tempat yang tepat untuk melakukan pendaratan bagi kendaraan penjelajah Mars. Tujuannya jelas, untuk menata Mars agar siap untuk menjadi lahan eksplorasi makhluk Bumi, mulai dari eksplorasi mineral hingga mengokupasi Mars menjadi tempat tinggal manusia.

Mengenal Daratan Planet Merah

Bintik merah raksasa tersebut merupakan badai atmosferik permanen yang diketahui terjadi di belahan selatan Jupiter selama 400 tahun.


Penyusutan bintik merah raksasa yang diamati pada tahun 1995, 2009 dan 2014 (NASA, ESA, & A. Simon/Goddard Space Flight Center).
Astronomy Event - Jika kita mengamati Jupiter, maka ada bintik raksasa yang menjadi ciri khas planet terbesar di Tata Surya tersebut. Bintik merah raksasa tersebut merupakan badai atmosferik permanen yang diketahui terjadi di belahan selatan Jupiter selama 400 tahun. 

Badai tersebut pertama kali dilihat oleh Giovanni Cassini pada akhir 1600-an atau sekitar tahun 1665 meskipun para ilmuwan meragukan karena pada sata itu, badai tersebut baru saja terbentuk. Cakupan badai raksasa ini cukup luas. Seratus tahun lalu, badai raksasa tersebut meliputi area seluas 40.000 kilometer dan tampaknya saat ini badai tersebut menyusut dan dipekirakan pada tahun 2040 badai yang tadinya berbentuk oval akan tampak berbentuk lingkaran.

Tapi apakah terjadi percepatan? Pengamatan terbaru dari Teleskop Hubble milik NASA/ESA menunjukkan kalau penyusutan yang terjadi tampaknya mengubah ukuran badai tersebut dengan cukup mencolok. Setidaknya saat ini badai tersebut tampak pada ukurannya yang paling kecil yang pernah diamati.

Badai antisiklon berputar di planet gas raksasa tersebut tampak seperti mata merah tua mencolok yang melekat pada lapisan berputar yang berwarna kuning pucat, oranye dan putih. Badai di Jupiter tersebut mengamuk dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai beberapa ratus kilometer per jam.

Pengamatan di akhir tahun 1800-an menunjukkan kalau bintik tersebut memiliki diameter yang cukup lebar yakni 41000 km. Ukuran itu cukup untuk mengisi 3 Bumi di dalamnya. Di tahun 1979 dan 1980, wahana Voyager milik NASA yang melakukan Flyby melakukan perhitungan dan memperlihatkan kalau bintik tersebut memiliki diameter 23.335 kilometer.

Pengamatan terakhir Hubble menunjukkan ukuran yang jauh lebih kecil dari sebelumnya yakni kurang dari 16.500 kilometer. Ukuran ini merupakan diameter terkecil dari Bintik Merah Raksasa yang pernah diamati. Tapi kondisi ini seharusnya sesuai dengan fakta pengamatan astronom amatir yang menunjukkan bahwa sejak tahun 2012 terjadi peningkatan laju penyusutan sekitar kurang dari 1.000 km/jam. Sayangnya, penyebab penyusutan masih belum diketahui.

Dalam pengamatan terbarunya, Teleskop Hubble melihat ada pusaran kecil yang masuk ke dalam badai dan diperkirakan pusaran inilah yang mengubah dinamika internal bintik dan memicu terjadinya perubahan percepatan.

Bintik Merah Raksasa Jupiter Mengalami Penyusutan

Seorang animator membuat video perumpamaan seperti apa wajah Saturnus tatkala mendekati Bumi kita.


Bila sangat dekat dengan Bumi, Saturnus, planet gas raksasa kedua terbesar di Tata Surya itu bakal lebih terang dari bulan purnama. (Foto: Yeti Dynamics)

Astronomy Event - Saturnus, si planet bercincin, tak terkira indahnya. Bagaimana bila Saturnus mendekati planet kita? Seperti apa wajahnya?

Nick, seorang animator lewat Yeti Dynamics, membuat sebuah video untuk menggambarkan wajah Saturnus apabila memang mendekati Bumi. Video diunggah di Youtube, 3 Mei 2014 lalu.

Bila saja Saturnus berada di tempat yang kini dihuni Mars, 225 juta kilometer dari Bumi, planet gas raksasa kedua terbesar di Tata Surya itu akan lebih terang dari bulan purnama.

Cerlangnya Saturnus terjadi karena planet itu mampu memantulkan sinar Matahari 4 kali lebih banyak dari Bulan.

Walau saturnus tetap akan tampak lebih kecil dari Bulan, manusia di Bumi bakal bisa melihatnya tanpa teleskop, termasuk mengobservasi bulannya—Titan.

Bila Saturnus bergerak lebih dekat lagi, maka planet itu bakal mampu menerangi bagian gelap Bulan. Bahkan, manusia bisa melihat umbra dan penumbra Bumi.

Mengabaikan gravitasi, jika Saturnus terus bergerak mendekat, manusia bakal bisa melihat sisi gelapnya. Cincin Saturnus bakal terlihat berbeda. Tentu saja, video tersebut hanya pengandaian. Saturnus tetap nyaman di orbitnya, berjarak paling dekat 1,3 miliar kilometer dari Bumi.

Saturnus tidak akan bergerak hingga mencapai wilayah Mars, apalagi sangat dekat sehingga tampak seperti dalam video Nick. Saturnus bisa dilihat dengan mata telanjang, tampak berupa titik kecil. Untuk observasi lebih detail, manusia harus menggunakan teleskop.

Mendekati Wajah Saturnus

Rocket

Rp250.000,-   Rocket SEKALI INSTALL DI BLOGSPOT RATUSAN PRODUK SIAP HASILKAN UANG Senjata Para Pebisnis Affiliate TAHUKAH ANDA BAHWA - Siapa...

Subscribe Our Newsletter