Halaman

    Social Items

Mendengar kata "interaksi" tentunya identik dengan arti hubungan antar manusia. Tapi dalam geografi ada juga istilah interaksi, tapi bukan manusia yang menjadi subjeknya tapi wilayah. Ada 3 faktor utama yang mendasari terjadinya interaksi wilayah dan penjelasannya bisa dilihat disini Baca: 3 Faktor Pembentuk Interaksi Wilayah. Bicara tentang interaksi, dalam postingan kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang bagaimana cara menghitung/mengukur kekuatan interaksi antar dua wilayah atau lebih. 
Pada dasarnya prinsip dari adanya perhitungan kekuatan interaksi wilayah ini adalah mengacu pada hukum Newton dimana bila ada dua benda yang berdekatan maka keduanya akan memiliki gaya gravitasi dan kekuatannya tergantung dari massa benda dan jarak kedua benda tersebut. 
Mengitung Kekuatan Interaksi Wilayah
Sarana Transportasi Handal Mempermudah Interaksi Wilayah, pic:https://www.kereta-api.co.id
Jika prinsip fisika tersebut dicoba diaplikasikan dalam geografi wilayah maka ada dua komponen utama untuk menghitung kekuatan interaksi wilayah yakni jumlah penduduk (pengganti massa benda) dan jarak antar wilayah (pengganti jarak antar benda). Dalam pelajaran geografi kelas XII SMA setidaknya ada 3 teori yang umum dijumpai untuk mengukur kekuatan interaksi wilayah yaitu Teori Titik Henti (Breaking Point Theory), Teori Gravitasi dan Teori Konektor. Untuk penjelasan teori titik henti bisa dilihat di postingan Baca: Rumus Teori Titik Henti. 
Nah di postingan ini saya akan berikan penjelasan mengenai Teori Gravitasi dan Teori Konektor. Keduanya sama-sama digunakan untuk menghitung kekuatan interaksi wilayah. 

1. Teori Gravitasi
Teori ini pada dasarnya adalah konsep hukum fisika yang dikemukakan oleh Issac Newton dan diperluas penggunaannya dalam geografi oleh W. J Reilly. Reilly berpendapat bahwa kekuatan interaksi antara dua wilayah atau lebih di permukaan bumi dapat diukur dengan memerhatikan jumlah penduduk dan jarak mutlak diantara dua wilayah tersebut. Rumus Teori Gravitasi adalah sebagai berikut

Keterangan:
I 1-2      = kekuatan interaksi daerah 1 dan 2
k = konstanta empiris (umumnya 1)
P1 = jumlah penduduk wilayah 1
P2 = jumlah penduduk wilayah 2
J1-2 = jarak mutlak antara wilayah 1 dan 2

Contoh Soal:
Diketahui jumlah penduduk kota Kuningan adalah 50.000 jiwa dan kota Sumedang adalah 40.000 jiwa. Jarak antara kota Kuningan dengan kota Sumedeang adalah 1.000 km. Berapakah kekuatan interaksi antara kedua kota tersebut?
Jawab:
I¹-² =  k . P1 . P2
(J 1-2)²
 = 1. 50.000 . 40.000
   (1000) ²
 = 1. 200.0000.000
1.000.000
 = 2.000
Jadi nilai interaksi kota Kuningan dengan kota Majalengka adalah 2.000.

Teori Konektivitas
Teori ini dicetuskan oleh K. J. Kansky yang biasanya digunakan untuk menentukan kekuatan arus interaksi barang/jasa antar wilayah yang dihubungkan oleh jaringan jalan. Kekuatan interaksi ditentukan oleh indeks konektivitas yang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
I = indeks konektivitas
e = jumlah garis/jaringan halan
v = jumlah titik/kota

Contoh penerapan:
Berapakah nilai konektivitas dari sebuah jaringan kota di bawah ini:
I =  e
       v
    = 4/4 
    = 1

Itulah 2 cara menghitung kekuatan interaksi antar wilayah dan memang jumlah penduduk dan ketersediaan sarana transportasi merupakan faktor utama dalam terjadinya interaksi wilayah.

Menghitung Kekuatan Interaksi Wilayah

Kota merupakan impian tempat hidup bagi sebagian besar orang saat ini. Bagaimana tidak, semua kebutuhan bisa didapatkan di kota. Kota berkembang dari sebuah kelompok kecil dan menjadi sebuah wilayah pesat dengan berbagai macam fasilitasnya. Kota merupakan perwujudan dari sebuah aktivitas manusia di atasnya dan akan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sejarah munculnya kota-kota di dunia khususnya di Indonesia sangat erat dengan sejarah kegiatan awal penduduk pada masa lampau. Berikut ini beberapa klasifikasi kota di Indonesia berdasarkan sejarah awal pembentukannya.

1. Kota dari pusat perkebunan
Beberapa kota di Indonesia berawal dari kegiatan perkebunan pada masa kolonial seperti Bandung, Deliserdang dan Bogor. 
Klasifikasi Kota
Kota Bandung Berkembang dari Perkebunan, pic:http://bandung.panduanwisata.id/
2. Kota dari pusat pertambangan 
Kegiatan pertambangan yang dilakukan terus menerus seringkali melahirkan kota baru karena hasil tambang yang besar mendorong pertumbuhan daerah di sekitarnya. Contoh kota yang berasal dari kegiatan pertambangan di Indonesia diantaranya Martapura, Sawahlunto dan Tembagapura. 
3. Kota dari pusat budaya dan pendidikan
Adanya sarana pendidikan dan budaya yang khas dapat menarik minat imigran untuk datang dan menetap di kota tersebut. Contoh kota yang berasal dari pusat budaya dan pendidikan diantaranya Yogyakarta dan Solo.
4. Kota dari pusat industri
Kota yang berkembang dari pusat industri di Indonesia contohnya Purwakarta, Batam, Karawang dan Bontang.
5. Kota dari pusat pemerintahan
Suatu daerah yang dijadikan pusat pemerintahan akan mendorong terjadinya berbagai aktivitas barang dan jasa. Aktivitas pemerintahan akan mendorong munculnya berbagai kebutuhan akan barang dan jasa tertentu. Contoh kota ini adalah Jakarta dan Surabaya.

Selain berdasarkan sejarah awal terbentuknya, kota juga dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah penduduknya yaitu: 
1. Kota kecil yaitu kota yang memiliki penduduk antara 20.000-100.000 jiwa.
2. Kota besar yaitu kota yang memiliki penduduk antara 100.000 – 1 juta jiwa.
3. Kota metropolitan yaitu kota yang memiliki penduduk diatas 1 juta jiwa.

Peradaban manusia yang semakin pesat pada abad ini mengakibatkan semakin banyaknya kota metropolitan tumbuh di berbagai wilayah di bumi tak terkecuali Indonesia. Metropolitan dalam arti yang lebih luas adalah suatu istilah yang menggambarkan suatu kawasan perkotaan yang relatif besar baik dari ukuran luas wilayah, jumlah penduduk maupun skala aktivitas ekonomi dan sosial. Dalam Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kawasan metropolitan diartikan sebagai kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya satu juta jiwa.

Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi perkotaan merupakan faktor pendorong terjadinya kawasan metropolitan dan akan terus berpengaruh terhadap perkembangan metropolitan itu sendiri di masa depan. Kota metropolitan dimana pun ia berada akan mengemban fungsi ekonomi nasional yang sumbangannya akan sangat berarti bagi pembangunan negara. Metropolitan harus mampu menciptakan lapangan kerja da tingkat pendapatan yang memadai bagi masyarakat yang hidup di wilayah tersebut. Tingkatan pendapatan rata-rata masyarakat di kawasan metropolitan umumnya jauh lebih tinggi dibanding kota dan daerah lain sehingga menciptakan efek penarik bagi masyarakat pinggiran untuk pergi ke sana. Namun di sisi lain tingkat pengeluaran di kawasan metropolitan juga akan lebih tinggi dibanding daerah lain.

Secara garis besar terdapat dua macam bentuk fisik kota metropolitan yaitu metropolis menyebar (dispersed) dan metropolis memusat (concentrated). Kawasan metropolis menyebar terdiri atas metropolis menyebar dan metropolis galaktika sedangkan untuk metropolis memusat terdiri atas metropolis memusat, metropolis bintang dan metropolis cincin.
1. Metropolis Menyebar
Metropolis menyebar terbentuk dengan cara mengembangkan pertumbuhan di setiap bagian kota. Kota yang paling jarang penduduknya dan bagian kota lama diremajakan kembali dengan kepadatan penduduk rendah sehingga kota metropolitan tersebut akan cepat meluas. Sarana telekomunikasi harus baik dan ditunjang dengan kendaraan pribadi untuk transportasi.
Klasifikasi Kota
Kota Metropolis Menyebar
2. Metropolis Galaktika
Metropolis galaktika terbentuk dari pemukiman kota yang kecil, berpenduduk rapat dan dipisahkan sejauh beberapa kilometer oleh kawasan pertanian yang rendah sekali kepadatan penduduknya atau tidak berpenduduk sama sekali. Kegiatan sosial ekonomi di kawasan ini terbagi menjadi beberapa unit kecil, arus lalu lintas menyebar tetapi akan memusat kemudian menuju pusat pemukiman.
Klasifikasi Kota
Kota Metropolis Galaktika
3. Metropolis Memusat
Metropolis memusat memiliki karakteristik kegiatan sosial ekonomi yang tinggi sehingga mendorong kepadatan penduduk yang tinggi terutama di kawasan pusat. Kegiatan sosial ekonomi yang tinggi mengakibatkan penduduk banyak bermukim di apartemen, rumah susun dan pemukiman lainnya. Transportasi publik lebih dominan pada kawasan ini dengan jalur pedestrian yang banyak dibangun di sisi jalan.
Klasifikasi Kota
Kota Metropolis Memusat
4. Metropolis Bintang

Metropolis bintang mempunyai pusat kota utama, dan pola kepadatan penduduk pada wilayah pusat berbentuk bintang dengan perpanjangan beberapa bagian kota yang linear seperti lengan di alam terbuka. Inti kota utama sebagai pusat kota yang dikelilingi oleh banyak kota kedua yang terletak sepanjang lengan-lengan yang linear tersebut. Lengan-lengan kota metropolitan ini mempunyai kepadatan penduduk yang sedang, lebih tinggi daripada metropolis menyebar tetapi lebih rendah daripada di daerah pusat. 
Klasifikasi Kota
Kota Metropolis Bintang
5. Metropolis Cincin

Dalam kawasan metropolis cincin kepadatan penduduk adalah sebaliknya, kawasan yang jarang penduduknya terdapat di tengah kota sedangkan kepadatan yang tinggi terdapat di sekeliling tengah kota sehingga bentuk ini menyerupai cincin. Pergerakan lalu lintas utama juga berbentuk cincin, dimana melayani wilayah yang padat penduduknya, dan dibantu oleh beberapa jalur yang menuju ke pusat kota. Bentuk kota seperti ini banyak terdapat di negeri Belanda, misalnya kota Haarlem, Amsterdam, Utrecht, dan Rotterdam. 
Klasifikasi Kota
Kota Metropolis Cincin

Klasifikasi Kota

Pada postingan sebelumnya, sudah dibahas tentang pola umum migrasi di Indonesia. Nah di postingan kali ini kita akan lebih jauh mempelajari tentang fenomena urbanisasi. Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar. Orang yang melakukan urbanisasi disebut kaum urban. Contohnya orang- orang dari daerah pedesaan pergi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung. Fenomena mudik saat lebaran menjadi bukti semakin pesatnya arus urbanisasi di Indonesia.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang secara garis besarnya dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor pendorong  dari desa (daya tolak desa) dan faktor penarik dari kota (daya tarik kota).
1. Faktor pendorong dari desa
  • Pemilikan tanah di desa semakin sempit sebagai akibat pertambahan penduduk yang cepat sehingga pendapatan rendah.
  • Kesempatan kerja atau lapangan kerja di desa terbatas, lebih bersifat homogen.
  • Upah tenaga kerja rendah.
  • Kurangnya fasilitas-fasilitas sosial di desa, misalnya fasilitas pendidikan, kesehatan, penerangan, dan hiburan.
  • Aturan adat yang terlalu mengekang.
2.Faktor penarik dari kota
  • Kesempatan kerja di kota lebih banyak, misalnya di sektor industri, perdagangan, bidang jasa, dan sebagainya.
  • Upah tenaga kerja lebih tinggi.
  • Kota memiliki kemudahan fasilitas, misalnya fasilitas pendidikan, kesehatan, hiburan, penerangan, dan transportasi.
  • Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.
  • Tidak ada norma hukum mengikat di kota.
Urbanisasi akan menimbulkan dampak, baik di daerah pedesaan yang ditinggalkan maupun di kota yang dituju. Dampak fenomena urbanisasi adalah sebagai berikut.

1. Akibat negatif urbanisasi yang terjadi di desa antara lain :
  • Terjadi kekurangan tenaga muda karena pemuda banyak yang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan,
  • Sulit mencari tenaga terdidik sebagai tenaga penggerak pembangunan sebab mereka yang mempunyai pendidikan cukup tinggi tidak mau  pulang ke desanya, sedangkan yang tinggal di desa sebagian besar hanyalah anak- anak dan orang tua,
  • Terhambatnya pembangunan di desa,
  • Produktivitas pertanian dan sumber-sumber penghasilan di daerah pedesaan makin menurun sebab kekurangan tenaga pengelola.
  • Aturan adat desa perlahan luntur.
2. Akibat negatif urbanisasi yang terjadi di kota antara lain :
  • Di bidang kependudukan, semakin meningkatnya kepadatan penduduk di kota,
  • Di bidang ekonomi, akibat kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh para urban sehingga meningkatnya pekerja kasar di kota, penghidupan semakin sulit, kesempatan kerja semakin sempit, dan jumlah pengangguran meningkat,
  • Di bidang sosial, perumahan makin sulit diperoleh sehingga timbul  golongan tunawisma (gelandangan), gubuk-gubuk liar, daerah pemukiman kumuh atau slum area, dan lingkungan kota menjadi kotor,
  • Di bidang transportasi, sering terjadi kemacetan lalu lintas terutama dijalan-jalan besar, meningkatnya kecelakaan lalu lintas, jumlah  transportasi umum tidak mencukupi jumlah penumpang,
  • Di bidang keamanan, meningkatnya angka kejahatan, seperti pencopetan, penodongan, pencurian, penipuan, dan perampokan.
Urbanisasi: Faktor, Dampak dan Upaya Penanggulangannya
Urbaniasi Penyebab Meningkatnya Kepadatan Penduduk, pic:http://www.worldbank.org/
Meskipun urbanisasi banyak membawa akibat negatif, ada juga akibat positifnya. Akibat positif urbanisasi bagi desa :
  • Mengurangi pengangguran di pedesaan,
  • Mengurangi kepadatan penduduk di desa,
  • Tertanamnya sifat dinamis masyarakat desa akibat pengaruh dan urban yang pulang ke desa, sehingga menunjang pembangunan desa.
Akibat positif urbanisasi bagi kota adalah dapat memperoleh tenaga kerja yang murah untuk pembangunan, terutama tenaga kerja kasar.

Usaha-usaha Mencegah atau Mengurangi Urbanisasi
Upaya pemerintah untuk mencegah atau mengurangi terjadinya urbanisasi antara lain sebagai berikut :
  • Melaksanakan pembangunan secara desentralisasi, yaitu pembangunan yang merata atau menyebar berpusat pada daerah-daerah, misalnya pembangunan di Indonesia berpusat pada empat kota. seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang. Masing-masing daerah akan mengembangkan daerah sekitarnya contohnya, untuk daerah Jakarta dikenal dengan istilah Jabotabek, di Surabaya dikenal dengan istilah Gerbangkertasusila. Dengan demikian, penduduk desa yang ingin mencari pekerjaan tidak perlu ke kota besar.
  • Mengadakan modernisasi desa dengan program pembangunan.
  • Memperbanyak fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan, seperti fasilitas kesehatan, sekolah, tempat hiburan, dan transportasi.
  • Mengendalikan pertumbuhan penduduk di pedesaan melalui program keluarga berencana.
  • Meningkatkan perekonomian rakyat pedesaan, antara lain membangun irigasi, menggiatkan koperasi unit desa atau KUD
  • Meningkatkan keamanan di pedesaan dengan lehih mengaktifkan sistem keamanan lingkungan atau siskamling.
  • Mengeluarkan peraturan untuk mempersulit perpindahan penduduk desa ke kota, misalnya izin pindah ke kota sulit, Jakarta dinyatakan tertutup bagi pendatang baru.
Usaha-usaha untuk mengatasi akibat urbanisasi di kota besar sebagai berikut :
  • Menertibkan pemukiman kumuh, pembuangan sampah, dan air limbah.
  • Mengadakan penghijauan kota, yaitu mengadakan jalur hijau dan taman kota.
  • Memperluas pemukiman dengan membangun kota satelit, yaitu kota kecil di sekitar kota besar.
  • Menambah perumahan rakyat dengan membangun rumah murah, yaitu rumah susun, menambah sarana angkutan, jaringan listrik, air minum, dan  sebagainya.
  • Menciptakan kutub pertumbuhan baru.

Urbanisasi: Faktor, Dampak dan Upaya Penanggulangannya

Desa dan kota merupakan sebuah fenomena wilayah yang unik. Kedua wilayah dengan perbedaan karakter ini selalu berinteraksi satu sama lain. Interaksi antara desa dan kota memiliki unsur timbal balik. Walaupun demikian, arah atau arus pengaruh itu masih juga tergantung pada kekuatan dominasi dari salah satu pihak. Interaksi ini meninggalkan dampak positif maupun negatif bagi kedua pihak. Baca juga: Faktor Kepadatan Penduduk
Urbanisasi, ruralisasi, sirkulasi, ulang-alik adalah berbagai wujud dari hubungan atau interaksi antar-desa kota. Sejatinya pengaruh kota saat ini begitu kuat terhadap wilayah desa. 
Dampak Interaksi Desa Dan Kota
Kota Semakin Padat, pic:http://msutoday.msu.edu/

Pengaruh positif dari penetrasi kota ke desa adalah:
1. Pemerintah; dalam hal ini melewati petugas-petugas pemerintah, lembaga atau instansi pemerintah, mass media seperti harian, radio, televisi.
2. Mahasiswa; dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan tugas akademis KKN di desa-desa, pelaksanaan survei kecil.
3. Tenaga Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) yang telah sejak lama membantu pemerintah desa di bidang pembangunan desa.
4. ABRI yang dalam progam manunggalnya dengan rakyat pedesaan telah banyak membantu dan mengajak masyarakat pedesaan bersama-sama membina wilayah desanya. 
5. Migrasi atau mobilitas yang terjadi antar kota–desa seperti urbanisasi, sirkulasi, dan nglaju yang membawa juga arus teknologi, kebudayaan, dan gaya hidup dari kedua belah pihak.
6. Lembaga swasta yang juga nampak ikut aktif dalam membina masyarakat pedesaan.
7. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.
8. Kemajuan di bidang pendidikan desa.
9. Meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi karena perkembangan transportasi.
10. Kemajuan teknologi membantu pengembangan sektor pertanian.
11. Kemajuan dalam pelestarian lingkungan karena banyaknya interaksi dengan ahli dari berbagi ilmu.
12. Meningkatnya wiraswasta.
13. Pengetahuan dan kesadaran pentingnya keluarga kecil.
14. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial.

Pengaruh negatif yang dialami daerah pedesaan:
1. Pengaruh fashion trend dari kota menyebabkan orientasi ke pertanian berubah.
2. Pengaruh televisi memberikan gambaran tentang kejahatan yang meningkatkan kriminalitas.
3. Banyaknya pemuda yang bekerja ke kota menyebabkan desa kekurangan tenaga produktif.
4. Masuknya investor mengubah tata guna lahan desa menjadi pemukiman maupun bangunan lain.
5. Penetrasi kebudayaan kota yang tidak sesuai cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problem pangan, problem pengangguran, problem lingkungan, dll. Baca juga: Faktor Interaksi Wilayah

Dampak Interaksi Desa Dan Kota Bagi Desa

Kota, hmm semua orang tentu tahu tentang kata tersebut. Hampir semua orang senang tinggal di kota karena berbagai fasilitasnya. Berikut ini pengertian, struktur dan ciri kota menurut geografi. Baca juga: Teori Lokasi Von Thunen
Kota: Pengertian, Struktur dan Cirinya
Kota adalah surga kehidupan, pic:https://pixabay.com
Pengertian Kota
Menurut Bintarto: Dari segi geografi, kota data diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan di warnai dengan strata social-ekonomi yang hiterogen dan coraknya materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh unsure-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistik di bandingkan dengan daerah belakangnya.
Istilah kota dan daerah perkotaan di bedakan di sini karena ada dua pengertian yaitu: kota untuk city dan daerah perkotaan untuk urban. Istilah city di identikkan dengan kota, sedangkan urban berupa suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan peghidupan modern, dapat di sebut daerah perkotaan. Penggolongan kota dapat didasarkan pada fungsi, struktur mata pencaharian, tipe masyarakat, jumlah penduduknya, besar kecilnya, daerah pemukiman dan sebagainya. Jadi penggolongan kota ini dapat dilihat dari segi ekonomi, segi sosiologi, segi demografi, dan segi geografis yang abstrak. Seperti halnya tentang pendefinisian kota, dalam penggolongan kota, dalam penggolongan ini juga terdapat berbagai kriteria, lebih-lebih mengenai penggolongan yang kuantitatif atau numeric. Penggolongan atas angka-angka ini di sebut penggolongan numeric dan penggolongan lainnya di sebut penggolongan nonnumeric. Perbedaan penggolongan ini di sebabkan antara lain: perbedaan kepadatan, perbedaan tingkat teknologi dan budayaan. Di Indonesia penggolongan yang sudah di tentukan  oleh Undang-undang No.18 kesemuanya pada umumnya di dasarkan pada jumlah penduduk.
Struktur Kota
Dari segi geografi studi tentang desa dan kota adalah penting dan menarik, karena dalam disipin ini di perhatikan mengenai hal lokasi kota, kedudukan kota, hubungan kota dengan daerah sekitarnya (location, site, and situation). Sistem zoning dan perubahan-perubahan yang timbul, perkembangan kota beserta masalah-masalah yang di hadapi. Menurut Freeman (1958), di katakan bahwa ‘Planing has an inescapable basic’. Dengan pernyataan ini maka geografi akan banyak membantu di bidang perencanaan kota. Struktur penduduk kota dapat di lihat dari jenis kelamin, umur, jenis mata pencaharian, segregasi (pemisahan yang dapat menimbulkan kompleks atau kelompok). Unsur-unsur geografi tidak hanya dapat membatasi luas daerah semacam ini tetapi dapat pula menimbulkan ‘natural areas’. Masalah struktur penduduk kota dari segi segregasi perlu mendapat perhatian demi keserasian dan ketenangan hidup di kota.
Ciri-ciri kota
Tanda pengenal kota dapat di lihat dari ciri fisik dan ciri sosial. Menurut Bintarto dalam bukunya Pengantar Geografi Kota, maka beberapa ciri fisik dapat di tunjukkan sebagai berikut: Baca juga: Teori Tempat Sentral
a.    Tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan.
b.    Tempat-tempat parkir.
c.    Tempat-tempat rekreasi dan olah raga.  
Sebagai ciri sosial dapat di kemukakan sebagai berikut:
a.    Pelapisan sosial ekonomi.
b.    Individualisme.
c.    Toleransi sosial.
d.   Jarak sosial.
e.    Penilaian sosial.

Pengertian, Struktur dan Ciri Kota

Setiap kali lebaran tiba, pastinya fenomena macet akan menghiasi kabar di televisi atau media lainnya. Mengapa hal ini selalu terjadi setiap tahun dan apakah fenomena macet ini bisa diatasi?. Tentunya setiap orang ingin perjalanan mudiknya lancar, aman dan tanpa hambatan lain. Jalan tol sudah dibuat, transportasi umum sudah cukup, lalu mengapa macet tetap saja ada?. 

Coba anda rasakan berada di jalan selama 24 jam tanpa bergerak, bagaimana rasanya?. Lelah, Capek, Bete, Stress dan Frustasi pasti melanda. Ada beberapa fenomena yang saya amati sejak dari dahulu diantaranya: Dahulu titik kemacetan terjadi di wilayah jalur pantura atau nagreg. Sekarang ini setelah Tol Cipali sekalipun dibangun, macet tetap terjadi di pintu keluar Brebes. Jadi pembangunan tol semata-mata hanya memindahkan lokasi kemacetan saja. Lantas faktor apalagi yang membuat kemacetan parah ini bisa terjadi? Apakah gara-gara si Komo lewat?. Jika tidak diantisipasi dari sekarang maka tahun selanjutnya hal serupa pasti akan terjadi. Saya coba membuat analisa asal-asalan, daripada tidak posting sama sekali hari ini.

Pertama, pada dasarnya panjang jalan di Pulau Jawa relatif masih cukup untuk menampung kendaraan agar bisa bergerak normal. Masalahnya ada ketidaknormalan bisa terjadi bila jalan tersebut dipenuhi ratusan hingga jutaan kendaraan dalam satu waktu. Mau sebagus apapun rekayasa lalu lintas, tetap saja macet tidak bisa dicegah.
Kedua, pertumbuhan kendaraan di Indonesia sangat cepat, saya tidak tahu persis angkanya. Yang jelas setiap tahu pasti pemilik kendaraan bermotor akan bertambah. Apalagi fasilitas kredit yang mudah membuat orang kini sangat gampang membeli kendaraan. 
Ketiga, banyak pertemuan jalur yang menimbulkan kemacetan. Misalnya di Brebes ada pertemuan arus darri pentura dan cipali. Ya sudah pasti akan bertemu dan tidak bisa bergerak. Artinya perlu dibangun flyover untuk mengatasi hal ini. Saya sendiri sering melihat, lampu lalu lintas di Indonesia ini memang ajaib, lampu merah nya 60 detik, lampu hijaunya 20 detik.
Keempat, banyak pasar tumpah di sepanjang jalur mudik. Dimana-mana yang namanya pasar pasti padat dan tentu menimbulkan kemacetan. Lalu bagaimana?. Mau dilarang jualan?. Nanti melanggar HAM lagi.
Kelima, jumlah pendatang yang pergi ke Jabodetabek tiap tahunnya meningkat. Kenapa sih nyari kerja harus di Jakarta?. Ya, terserah gue, lu pikirin aja hidup lu sendiri?. Ini menandakan masih adanya ketimpangan pertumbuhan wilayah di Jawa. Kota Jakarta dan sekitarnya berkembang jauh dibanding daerah lain. Hal ini berdampak pada arus urbanisasi yang besar akibatnya Jakarta menjadi lautan manusia pendatang (imigran).

Indonesia Perlu Manajemen Transportasi Mudik Untuk Hindari Macet Parah
Macet Lagi, pic: http://berita.suaramerdeka.com/
Setiap orang pada dasarnya berhak mencari rezeki dimanapun, tidak ada yang melarang. Namun bagaimana mengatasi persoalan kemacetan ini yang selalu terjadi di kala lebaran tiba. Saya pikir manajemen transportasi mudik perlu ditingkatkan. Menurut saya cara terbaik adalah membagi jadwal mudik para pekerja?. Apakah bisa?. Saya tidak tahu, barangkali saja ada ahli yang bisa menjawab. Kelancaran perjalanan tergantung pada level normal jumlah kendaraan yang melewati jalan itu sendiri. Artinya setiap ruas jalan punya level kritis. Jika sudah melewati batas level tersebut maka terjadilah macet.

Balik lagi bisakah mudik ini dimanage alias di jadwal?. 
Misalkan ada 100.000 penduduk di Jakarta sedangkan satu panjang ruas jalan hanya bisa lancar jika dilalui maksimal 20.000 kendaraan sehari maka ada 5 waktu perjalanan yang dialokasikan. Artinya nanti setiap penduduk yang mudik wajib mendaftar baik pekerja kantoran, wiraswasta atau gembel sekalipun alias di data terlebih dahulu. Setelah itu akan direkap dan diberikan jadwal waktu mudiknya. Jika melanggar maka akan kena sanksi, gitu aja kok repot?. Masalah lainnya lagi adalah waktu libur karyawan, nah ini tentunya harus disikapi masing-masing bagaimana solusinya. Yang jelas pasti setiap orang ingin mudik nyaman, lancar jaya tanpa macet. Kalau begitu ya harus diatur donk. 

Mau mudik H-3, H-10 ke ya terserah saya, ngapain ngurusin?. Ya memang hal ini terkesan formal sekali, atau mungkin melanggar HAM. HAM lagi HAM lagi, enek saya mendengar HAM. Lalu KAM alias Kewajiban Asasi Manusia udah dijalankan belum?.Haaa. 
Saya hanya bias berdoa semoga yang mudik selamat sampai tujuan dan kalau terjebak kemacetan, maka kesabaran anda sedang diuji. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Indonesia Perlu Manajemen Transportasi Mudik Untuk Hindari Macet Parah

Mudik adalah sebuah fenomena mobilitas penduduk di Indonesia dan menjadi tradisi tersendiri. Setahun merantau di tanah orang, maka sudah keharusan saat Idul Fitri untuk kembali ke kampung halaman bertemu kerabat untuk saling bersilaturrahim. Jutaan manusia akan bergerak dalam waktu yang bersamaan dan pastinya akan menimbulkan kepadatan di mana-mana.

Memang fokus utama untuk pengelolaan arus mudik terutama berada di Jawa karena penduduk Jawa paling banyak. Bagi saya, semakin banyaknya pemudik setiap tahun menandakan semakin besarnya ketimpangan pembangunan pusat pertumbuhan di Jawa. Lihat saja, Jabodetabek yang sudah penuh sesak oleh lautan manusia. Memang tidak ada yang salah dengan mudik, dan di negara lain seperti China pun ada tradisi semacam ini. Namun mudik juga harus dimanage agar keselamatan lebih utama. Mobilitas tinggi tentunya menambah besar resiko kecelakaan lalu lintas. Angka kematian tertinggi justru disumbang dari kecelakaan lalu lintas, buka dari penyakit atau lainnya. Bagaikan sebuah efek domino, semakin banyak penduduk maka > kebutuhan kendaraan besar dan > angka kematian di jalan semakin tinggi. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bagi semua masyarakat. Daripada naik motor bawa barang banyak beresiko dan menempuh ratusan kilometer, lebih baik duduk santai di rumah kan?. Tapi jelas yang namanya manusia Indonesia, tidak afdol rasanya jika lebaran tidak di kampung. 

Fasilitas transportasi umum saat ini memang masih belum bisa menampung banyaknya jumlah pemudik. Padahal fasilitas transportasi umum lebih nyaman dan aman. Balik lagi kaitan antara mudik dan ketimpangan pusat pertumbuhan. Sejak era kemerdekaan hingga kini, Ibukota Jakarta dan kota satelit di sekitarnya menjadi magnet yang menggiurkan banyak pendatang. Uang ada di sana dan manusia menyukainya. Lantas kenapa harus Jabodetabek, kemana kota-kota lainnya?. Inilah yang menjadi pusat perhatian kita bersama untuk merencanakan pembangunan yang merata dan tidak egosentrik. Kota-kota lain berhak untuk tumbuh dan menjadi magnet baru sehingga penyebaran kaum pendatang bisa dikelola dan tidak menumpuk di satu titik. Apakah perlu nantinya mendata dulu calon pendatang agar dipilihkan lokasi hijrah nya?. Mungkin suatu saat perlu juga agar satu kotak tidak diisi oleh seratus bola sekaligus dan lebih baik di bagi menjadi 5 kotak atau berapa. Masalahnya dimana 5 kotak lain tersebut dan bisakah 5 kotak baru tersebut memberikan pengharapan seperti kotak pertama (Jakarta dsk).
Mudik dan Ketimpangan Pusat Pertumbuhan
Mudik Yuk, pic:http://www.bumn.go.id/
Itulah Indonesia, walau bagaimanapun kita harus bersyukur hidup di negeri yang damai dan tidak ada konflik. Bagi yang mau mudik, hati-hati di jalan tetap waspada dan beristirahatlah jika lelah karena keluarga sangat menunggu jiwa raga anda dalam keadaan sehat di rumah. Bagi yang perlu peta mudik silahkan lihat di situ berikut. Peta Mudik 2016. Dan untuk mengetahui kondisi beberapa ruas jalan utama mudik silahkan buka situs Lewatmana.com

Mudik dan Ketimpangan Pusat Pertumbuhan

Apakah anda merasa harga tanah dan properti saat ini sangat melambung tinggi?. Bila anda merasa demikian berarti anda masih normal karena di masa sekarang
ini lahan dan transportasi adalah bagian penting yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Baik tata guna lahan dan jaringan transportasi merupakan bagian dari sistem keruangan yang dipengaruhi faktor eksternal. Setiap komponen dari kedua variabel tadi terus berkembang karena perubahan teknologi, kebijakan, ekonomi, demografi dan bahkan budaya. Hasilnya adalah interaksi antara tata guna lahan dengan jaringan transportasi selalu dikontrol oleh keputusan yang dibuat warga, pemilik properti dan pemerintah. Hal inilah yang membuat terjadinya evolusi tata ruang kota. Ada fenomena dimana dahulu ada sebuah lahan yang harganya sangat murah dan masuk kategori lahan tidur namun setelah jaringan jalan memotong wilayah tersebut maka harga lahan akan naik berkali-kali lipat dan fungsinya lambat laun berubah menjadi pabrik, pemukiman, pertokoan atau lainnya. Itulah dinamika wilayah perkotaan yang dihadapi saat ini. Lalu faktor-faktor apa yang memengaruhi dinamika perkotaan saat ini?. Inilah penjelasannya:
1. Tata Guna Lahan. Inilah komponen yang paling stabil dalam dinamika perkotaan. Dampak utama dari perubahan tata guna lahan adalah fungsinya sebagai penggerak dan penarik terjadinya mobilitas. Perubahan tata guna lahan memicu lonjakan harga sewa dan harga jual sehingga lahan kini menjadi salah satu bagian dari investasi jangka panjang yang menggiurkan apalagi bila lokasinya strategis.
2. Jaringan Transportasi. Transportasi juga memainkan peranan penting dalam dinamika perkotaan karena jaringan transportasi dibangun untuk jangka panjang.  Di berbaga belahan bumi dapat dijumpai berbagai stasiun atau terminal yang dibangun ratusan tahun lalu dan hingga kini masih beroperasi. Kontribusi utama transportasi dalam perkotaan adalah sebagai penyedia aksesibilitas penduduk. Perubahan dalam jaringan transportasi akan memengaruhi terhadap aksesibilitas dan pergerakan penduduk. 
3. Mobilitas. Perubahan fisik kota memicu gerakan-gerakan penduduk di daerah tersebut baik secara vertikal maupun horisontal. Penduduk kini lebih sering pergi ke pusat kota karena jalan yang baik dan tersedianya angkutan umum. Mobilitas juga akan membawa hal-hal baru dari daerah lain untuk masuk ke wilayah kota. Hal baru tersebut dapat berupa budaya, modal, maupun variabel lainnya.
4. Pekerja. Sebuah kota tentunya banyak dibangun untuk pusat-pusat bisnis, pendidikan, jasa hingga pemerintahan. Hal tersebut akan berdampak pada besarnya permintaan tenaga kerja ke kota tersebut. Fenomena komuter adalah salah satu hasil dari dinamika perkotaan seperti Jakarta.
5. Penduduk dan Perumahan. Daerah pemukiman adalah sumber pekerja dan berfungsi sebagai penggerak. Perbedaan tingkat pendapatan dan stratifikasi kerja juga biasanya akan memengaruhi terhadap unit lokasi pemukiman setiap penduduk sehingga akan menghasilkan stratifikasi perumahan kota misalnya adanya perumahan real estate bagi kaum ultra kaya sedangkan kaum dibawah rata-rata bermukim di rumah susun.


Pembangunan Properti Bagian dari Dinamika Kota

Sumber dan Gambar:
diolah dari berbagai referensi
disini

Faktor Dinamika Perkotaan

Rocket

Rp250.000,-   Rocket SEKALI INSTALL DI BLOGSPOT RATUSAN PRODUK SIAP HASILKAN UANG Senjata Para Pebisnis Affiliate TAHUKAH ANDA BAHWA - Siapa...

Subscribe Our Newsletter