Halaman

    Social Items

Kalian pasti sering mendengar kata global warming atau pemanasan global, bukan?. Bagaimana proses global warming?. Global warming sebenarnya adalah dampak dari peristiwa efek rumah kaca yang berlebihan. Efek rumah kaca merupakan proses menghangatnya permukaan bumi dikarenakan pengaruh penyerapan radiasi panas matahari oleh bantuan gas-gas rumah kaca.
Efek rumah kaca sejatinya merupakan proses alamiah yang membuat permukaan bumi jadi hangat sehingga bisa dihuni oleh mahluk hidup. Jika tidak ada efek rumah kaca maka, permukaan bumi akan membeku seperti es di antartika. Masalahnya adalah efek rumah kaca saat ini sudah melampaui batas ambang normal dan lambat laun malah menaikkan suhu bumi diatas normal. Peningkatan suhu bumi secara berkesinambungan inilah yang mengakibatkan adanya global warming. Peningkatan konsentrasi gas efek rumah kaca disebabkan oleh berbagai faktor seperti kegiatan industri, asap kendaraan, gunung meletus, asap rokok, kebakaran hutan dll.Untuk lebih memahami tentang proses efek rumah kaca, silahkan lihat animasi di bawah ini.
Animasi Efek Rumah Kaca
Efek Rumah Kaca, pic: Columbia Edu

Animasi Efek Rumah Kaca

Kalian tentu tahu bahwa setiap enam bulan sekali Indonesia mengalami pergantian musim dari kemarau ke penghujan dan sebaliknya. Apalagi di negara-negara subtropis, perubahan musim sangat jelas dengan adanya 4 kali pergantian musim yaitu semi, panas, gugur, dingin. Lalu mengapa bisa ada pergantian musim seperti itu?. Musim di bumi tercipta karena Bumi memiliki sumbu kemiringan saat rotasi yaitu 23,5 derajat. Jadi ada daerah yang relatif hangat sepanjang tahun di bagian tropis dan ada yang terbagi menjadi 4 musim. Titik awal pergantian musim khususnya di wilayah yang memiliki 4 musim bergantung pada posisi titik jatuh awal sinar matahari pada batas garis lintang tertentu yang dikenal sebagai Summer Solstice, Autumnal Equinox, Winter Solstice dan Vernal Equinox. Lihat ulasannya di bawah ini!
Perbedaan Summer Solstice, Autumnal Equinox, Winter Solstice dan Vernal Equinox
Pergantian musim, pic:https://aos.iacpublishinglabs.com/
Musim Panas /Summer
Untuk belahan bumi utara, musim panas adalah waktu terhangat dalam setahun. Ini bukan karena planet ini adalah  lebih dekat ke Matahari, tapi karena bagian Bumi utara sedang menghadap ke arah matahari. Hari-hari terpanjang dalam setahun terjadi selama bulan-bulan musim panas. Juni adalah waktu titik balik matahari musim panas (Summer Solstice), hari terpanjang dalam tahun kalender. Waktu solstice (titik balik) ditentukan oleh lokasi Matahari. Sinar matahari langsung mengarah di atas Tropic of Cancer pada hari terpanjang di belahan utara. Lantas bagaimana kondisi di belahan bumi selatan?Ini berlaku kebalikannya. Selama siang hari yang panjang di utara, Anda akan menemukan hari terpendek di selatan. Ketika ada gelombang panas di Amerika Serikat, maka pada saat bersamaan mungkin turun salju di Amerika Selatan. Peristiwa musim panas termasuk suhu tinggi, siang yang panjang, kekeringan, dan badai tropis.

Musim gugur/ Autumm
Selama musim panas, Kutub Utara condong ke arah Matahari dan Kutub Selatan menjauh dari Matahari dan menghasilkan musim dingin.. Matahari tepat jatuh langsung di atas Khatulistiwa saat Autumnal Equinox (September) dan pemanasan di belahan utara dan selatan relatif sama. Sebagai belahan bumi utara bergerak menuju hari yang lebih pendek dan mengawali musim dingin, belahan bumi selatan menonton salju mencair dan bunga-bunga mekar selama musim semi mereka. Peristiwa gugur termasuk daun jatuh dari pohon, hari lebih pendek dari musim panas, dan panen tanaman musim panas.

Musim dingin
Musim dingin terjadi saat sinar matahari berada di titik Winter Solstice baik itu di utara dan selatan. Musim dingin akan menghasilkan salju di Amerika Utara dan kebakaran di musim panas dan kekeringan di pedalaman Australia. Pada bulan Desember, Bumi berada di Winter Solstice di belahan utara. Hari terpendek dala setahun (untuk utara) terjadi ketika matahari berada langsung di atas Tropic of Capricorn padasaat bersamaan. Dari titik itu, segala sesuatu mulai berubah lagi. Peristiwa musim dingin meliputi dingin suhu, salju dan musim dingin badai, hari-hari terpendek tahun, dan hibernasi dari beberapa hewan.

Musim semi
Ahh musim paling hangat. Musim semi adalah waktu untuk kelahiran kembali dan muncul dari hari pendek dan musim dingin. Sementara belahan bumi utara melihat musim semi dari Maret sampai Juni, maka sebaliknya, musim gugur terjadi di belahan bumi selatan. Maret adalah waktu vernal equinox yang menunjukkan awal resmi musim semi. Namun pada kenyataannya, tanaman dan hewan mulai bersemi dan beraktifitas setelah cuaca mulai hangat. Bagi mereka ini bukan tentang kalender, ini tentang perubahan cuaca. Matahari sedang berada di atas Khatulistiwa saat ini dan belahan utara dan selatan menerima sekitar jumlah yang sama dari energi matahari. Peristiwa pada musim semi termasuk mekarnya bunga-bunga liar, daun baru di pohon-pohon, hari yang hagnat, dan cuaca basah (tidak salju). Untuk lebih jelasnya tentang mekanisme musim silahkan lihat animasi di link berikut: Mekanisme Pergantian Musim.

Perbedaan Summer Solstice, Autumnal Equinox, Winter Solstice dan Vernal Equinox

Menghitung Gradien Barometrik Atmosfer- Sebelum kita lihat contoh bagaimana cara menghitung gradien barometrik pada suatu peta isobar maka kita harus memahami dulu apa yang dimaksud tekanan udara.Udara masuk kategori zat karena menempati ruang meskipun tidak sepadat air atau tanah. Tekanan udara sangat erat kaitannya dengan proses terbentuknya angin. Tekanan udara sangat dipengaruhi oleh tingkat kerapatan (densitas) massa udara itu sendiri. Semakin tinggi kerapatan udara maka tekanannya semakin tinggi, begitu pun sebaliknya semakin kecil tingkat kerapatan udara maka semakin kecil tekanannya. Alat untuk mengukur tekanan udara dinamakan barometer. Tekanan udara normal adalah 76 cm Hg. Garis pada peta yang menghubungkan daerah dengan nilai tekanan udara yang sama dinamakan isobar. Angka yang menunjukkan perbandingan dua buah isobar di lapangan dinamakan Gradien Barometrik. Rumus Gradien Barometrik adalah sebagai berikut:


Contoh:
Hitunglah Gradien Barometrik pada peta berikut:


Jawab:
Gradien A- B = 10 x   111 x 1 mb = 13,875 mb
                                      80
Gradien P-Q = 10 x  111  x 1 mb = 7,6 mb
                                     50
Jadi angin yang bertiup dari A ke B lebih kuat dibanding angin yang bertiup dari P ke Q.

Menghitung Gradien Barometrik Atmosfer

Menghitung Kelembaban Relatif dan Mutlak Udara- Udara terdiri dari berbagai macam gas penyusun termasuk uap air. Kalian pernah kan merasakan kalau kadang udara itu kering dan lembab. Kelembaban udara (humidity) adalah banyaknya uap air dalam udara pada waktu dan lokasi tertentu. Karena adanya pemanasan, air yang ada dalam berbagai wujud di bumi menguap dan mengisi ruang-ruang udara. Makin tinggi suhu suatu tempat maka tingkat kelembabannya akan semakin tinggi. Alat untuk mengukur kelembaban udara dinamakan hygrometer atau psychrometer.
Kelembaban udara dapat dinyatakan dalam kelembaban nisbi/relatif dan kelembaban mutlak.  Kelembaban nisbi adalah perbandingan banyaknya uap air dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara dalam suhu yang sama. Kelembaban mutlak adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam 1 m3 udara. Rumus untuk menghitung kelembaban nisbi adalah sebagai berikut:






Contoh Penerapan
Dalam 1m3 udara pada suhu 20º C terdapat 25 gram uap air. Jumlah uap air maksimum dalam 1 m3 udara pada suhu 20º C adalah 50 gram. Berapa nilai kelembaban relatifnya?
Jawab: 
Kelembaban relatif  =   25  x 100 %
                                         50
                                 = 50%
Itulah cara bagaimana menghitung kelembaban relatif. Jika yang ditanyakan adalah kelembaban mutlak, maka tinggal utak-atik aja rumusnya.

Menghitung Kelembaban Relatif dan Mutlak Udara

Anda tentunya sering melihat fenomena hujan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ilmu meteorologi
dan klimatologi istilah hujan merupakan bagian dari "presipitasi". Presipitasi adalah istilah umum untuk semua bentuk hasil kondensasi uap air yang terkandung dalam atmosfer. Uap air tersebut selau ada di atmosfer meskipun udara tidak berawan. Presiptasi terjadi bilamana ada pendingin udara sehingga menyebabkan kondensasi. Faktor utama terjadinya presiptasi adalah adanya (1) massa uap air, (2) adanya inti kondensasi seperti partikel debu, kristal garam dan lainnya serta (3) adanya pendinginan udara kerena pengangkatan udara secara siklonik, orografik dan konvektif.
Menurut proses terjadinya, presipitasi dapat dibedakan menjadi 3 tipe yaitu:
1. Presipitasi siklonik (cyclonic precipitation)
Terjadi akibat naiknya udara da dipusatkan ke arah tekanan rendah. Berdasarkan pendinginannya dibedakan menjadi non frontal cyclonic dan frontal cyclonic.
2. Presipitasi konvektif (convective precipitation)
Terjadi karena udara panas naik ke lapisan udara yang letaknya lebih tinggi dan dingin.
3. Presipitasi orografik (orographic precipitation)
Terjadi akibat naiknya udara yang disebabkan oleh rintangan sebuah pegunungan.

Menurut bentuknya, presipitasi dapat dibedakan menjadi:
1. Drizzle
Presipitasi yang terdiri dari butir-butir air berdiameter kurang dari 0,02 milimeter atau intensitasnya kurang dari 0,04 mm per jam.
2. Rain
Bentuk presipitasi dengan ukuran butir air lebih besar dari 0,02 mm.
3. Glaze
Presipitasi berupa es yang terbentuk dari hujan atau drizzle yang membeku akibat kontak dengan lingkungan yang dingin.
4. Sleet
Terbentuk apabila butir-butir hujan sewaktu jatuh mengalami pembekuan akibat udara yang dingin.
5. Snow
Presipitasi dalam bentuk kristal es.
6. Hail
Presipitasi dalam bentuk-bola es dengan diameter lebih dari 0,2 inci

Klasifikasi tipe hujan lain juga dikemukakan oleh Seyhan yaitu mengelompokan presipitasi ke dalam 2 jenis yaitu presipitasi vertikal dan presipitasi horizontal. Presipitasi vertikal jatuh di atas permukaan bumi dan diukur oleh penakar hujan. Presipitasi horizontal dibentuk di atas permukaan bumi dan tidak dapat diukur oleh penakar hujan.
Presipitasi vertikal meliputi:
1. Hujan: air yang jatuh dalam bentuk tetesan yang dikondensasikan dari uap air di atmosfer.
2. Hujan Gerimis: hujan dengan butir tetesan sangat kecil.
3. Salju: kristal-kristal kecil air yang membeku dan secara langsung dibentuk dari uap air di udara bila suhunya pada saat kondensasi kurang dari 0 derajat celcius.
4. Hujan batu es: gumpalan es yang kecil, kebulat-bulatan yang terbentuk selama hujan badai.
5. Sleet: campuran hujan dan salju.
Presipitasi horizontal meliputi:
1. Es: salju yang berbentuk padat.
2. Kabut: uap air yang dikondensasikan menjadi partikel-partikel air halus di dekat permukaan tanah.
3. Embun beku: bentuk kabut yang membeku di atas permukaan tanah dan vegetasi.
4. Embun: air yang dikondensasikan sebagai air di atas permukaan tubuh yang dingin (permukaan tanah dan vegetasi) terutama di malam hari. Embun akan menguap di kala pagi hari.
5. Kondensasi pada es dan dalam tanah: kondensasi juga menghasilkan presipitasi dari udara basah hangat yang mengalir di atas lembaran es dan pada iklan sedang di dalam beberapa sentimeter di bagian atas tanah.




Sumber dan Gambar:
disini

Presipitasi dan Klasifikasinya

Di penghujung tahun 2014 ini Indonesia kembali terkena musibah diantaranya longsor di
Banjarnegara dan terakhir Hilangnya Pesawat Air Asia tujuan Surabaya Singapura. Khusus postingan kali akan menjelaskan sedikit tentang fenomena yang berkaitan dengan hilangnya pesawat Air Asia di atas Selat Karimata atau Laut Jawa.
Sampai saat ini dugaan sementara pesawat tersebut hilang karena pengaruh cuaca buruk di atas Laut Jawa dan di TV banyak diperbincangkan bahwa penyebabnya adalah awan Cumulonimbus. Apa sebenarnya awan Cumulonimbus tersebut dan bagaimana bentuknya?
Awan Cumulonimbus pada dasarnya adalah salah satu jenis awan yang biasa terbentuk di atmosfer. Di dunia penerbangan awan ini diberi kode Cb dan merupakan awan yang diusahakan dihindari oleh pesawat karena berbahaya. Awan Cb adalah awan yang tumbuh secara vertikal dari bawah atmosfer hingga ke atas sampai ketinggian kisaran 20 km. Awan Cb merupakan awan yang menghasilkan hujan deras, badai dan disertai petir karena banyak bermuatan listrik. Awan Cb memiliki 3 fase pembentukan dari mulai stadia awal, dewasa hingga pengahancuran. Awan Cb awalnya merupakan awan Cumulus yang berkumpul dan lama kelamaan membentuk awan raksasa seperti kembang kol ke atas atmosfer. Di dalam awan Cb suhu bisa minus derajat Celcius dan terbentuk butiran es. Selain itu kilat dan guntur juga sering terjadi. 

Stadia Awan Cumulonimbus
Pesawat-pesawat udara saat ini tentunya sudah dibekali dengan teknologi canggih agar meminimalisir dampak cuaca tersebut namun secanggih-canggihnya teknologi tentunya kita tidak tahu apa yang terjadi di atas atmosfer ketika pesawat masuk dalam awan Cb yang besar. Kalian yang pernah naik pesawat tentu sering mengalami goncangan ketika pesawat menabrak awan sedikit saja. Mungkin salah satu pesawat yang tahan awan ini adalah pesawat milik Obama yaitu Air Force One yang katanya bisa merubah cuaca.
Awan merupakan kumpulan titik air di udara yang menyatu, namanya air berarti memiliki massa dan jika ada benda menabrak awan tentunya benda tersebut akan mengalami hambatan. Begitu pula yang dialami oleh sebuah pesawat jika masuk ke dalam awan seperti Cb tentu akan mengalami gangguan. Perlu diketahui bahwa saat ini (Desember) Indonesia memasuki angin musim barat dan uap air dari Benua Asia akan menuju wilayah Indonesia dan berpotensi menimbulkan hujan. Citra satelit dengan sensor inframerah di bawah ini dapat memberikan gambaran bagaimana keadaan atmosfer di Indonesia ketika saat ini secara umum
Kondisi Atmosfer Indonesia Desember-Januari
Semakin berwarna merah maka mengindikasikan suhu di atas wilayah tersebut semakin dingin dan potensial terbentuknya awan hujan dan badai seperti Cb sangat tinggi. Jadi di sekitar Laut Jawa sekarang banyak terbentuk awan hujan, oleh sebab itu hingga saat ini tim SAR masih sulit untuk mengevakuasi korban dan pesawat Air Asia karena kondisi cuaca tadi. 
Jadi itulah sekilas mengenai awan Cumulonimbus yang pada dasarnya merupakan fenomena yang sering kita lihat sehari-hari. Jadi bila anda keluar rumah dan melihat awan seperti itu di luar maka sudah seharusnya anda membawa payung karena hujan lebat mungkin akan terjadi. Semoga bermanfaat.

Sumber;

Antara Air Asia dan Awan Cumulonimbus (Cb)

Rocket

Rp250.000,-   Rocket SEKALI INSTALL DI BLOGSPOT RATUSAN PRODUK SIAP HASILKAN UANG Senjata Para Pebisnis Affiliate TAHUKAH ANDA BAHWA - Siapa...

Subscribe Our Newsletter