Halaman

    Social Items

Ilustrasi

Astronomy Event - The Search for Extraterrestrial Intelligence, atau SETI, mungkin akan menjadi mainstream, seperti yang telah dibuktikan dalam pembicaraan di House Science and Technology Committee, yang mencakup testimoni dari Seth Shostack dan Dan Werthimer dari SETI.

Tapi sidang ini berubah ketika Chris Collins, warga New York, mengambil alih.

"Saya pikir saya mungkin mengajukan pertanyaan semua orang di ruangan ini," kata Collins. "Apakah Anda menyaksikan 'Ancient Aliens' dan apa komentar Anda tentang seri itu?"
Acara televisi yang disiarkan di The History Channel, yang mengeksplorasi kunjungan makhluk luar angkasa ke Bumi selama jutaan tahun. Shostack, ilmuwan senior di SETI Institute yang berbasis di California, mulai diplomatis.

"Saya pribadi tidak yakin bahwa kita sedang dikunjungi. Saya tidak berpikir bahwa itu akan menjadi sesuatu yang semua pemerintah dunia telah berhasil mengaburkan—untuk menjaga rahasia. Saya tidak percaya itu."Gagasan bahwa mungkin kita dikunjungi pada masa Mesir kuno dan sebagainya, perlu diingat bahwa dalam sejarah 4,5 miliar tahun sejarah Bumi, masa orang Mesir kuno baru saja berlalu. Jadi sekali lagi, kenapa mereka ada? Apa yang membawa mereka ke Bumi?"

"Piramida, misalnya, yang mungkin dibangun oleh Mesir. Aku tahu bahwa itu ide yang radikal bagi sebagian orang, tetapi mereka sangat pintar dan mereka pasti bisa melakukan itu, "tambahnya. 

Werthimer, direktur penelitian SETI di University of California Berkeley, lebih berterusterang. "UFO tidak ada hubungannya dengan extraterestrial," katanya. "Menurut saya, sebagian dari penampakannya nyata. "Beberapa ada yang dari imajinasi orang (tidak nyata), dan kita mengetahuinya karena terikat dekat dengan budaya populer. Saat Jules Verne menulis tentang piring terbang, semua orang melihat piring terbang. Sebelum itu, semua orang melihat malaikat. Saat orang menonton film, kita mendapat banyak laporan yang sebenarnya terkait dengan kejadian di film. Beberapa diantaranya sebenarnya tipuan yang dibuat untuk uang semata," Werthimer menjelaskan.

Tak lama kemudian, Bill Posey membicarakan Project Blue Book, sebuah seri studi tentang UFO yang diambil alih Air Force Amerika antara tahun 1952 dan 1969.

Namun, dari semua kejadian mengenai UFO dan alien, entah itu nyata maupun tidak, Shostak berpendapat bahwa jika benar alien menginvasi Bumi, semua orang di dunia pasti akan mengetahuinya.

Alien Akan Invasi Planet Bumi?

Pada kesempatan kali ini akan kita bahas salah satu fitur di Blogger, yaitu Sistem Moderasi Komentar. Moderasi komentar adalah salah satu fitur dari sebuah blog yang fungsinya untuk menyaring dan meninjau sebuah komentar di blog untuk di setujui atau tidak sebuah komentar oleh Admin blog.

Dengan mengaktifkan sistem ini ada beberapa keuntungan yang kita dapat, antara lain kita dapat memilih mana komentar yang pantas untuk ditampilkan mana yang tidak, selain itu juga dapat mengurangi komentar spam yang masuk ke blog kita, dan juga mengurangi link keluar dari blog spammer.

Namun juga terdapat kerugian jika kita mengaktifkan fitur ini, salah satunya para pengunjung yang memberikan komentar akan merasa kurang puas karena komentar yang di tulisnya tidak langsung muncul pada kolom komentar, selain itu Admin blog juga harus bisa selalu cek komentar, agar komentar tidak menumpuk atau membuat pengunjung yang berkomentar tidak sabar dan bertanya-tanya mengapa komentarnya tidak muncul-muncul.

Berikut langkah yang dilakukan untuk mengaktifkan / menonaktifkan Sistem Moderasi Komentar.
  • Buka blogger.com, lalu login ke akun Anda
  • Silahkan pilih nama blog yang akan anda moderasi komentarnya
  • Masuk ke Setelan > Pos dan Komentar
     photo moderasikoment_zps6be75ed9.jpg
  • Untuk mengaktifkan silakan pilih Selalu
  • Untuk menonaktifkan silakan pilih Tidak pernah
  • Terakhir klik Simpan setelan
     photo moderasikoment2_zps04071359.jpg
Sekian postingan saya kali ini, semoga bermanfaat buat kita semua.

Sistem Moderasi Komentar di Blog

Ekstingsi merupakan suatu efek yang disebabkan kehadiran atmosfer. Efek ini dapat mengurangi kecerahan bintang.


Ekstingsi atmosfer

Astronomy Event - Pernakah kalian dengar tentang fakta yang menyebutkan bahwa semakin besar ketinggian kita dari permukaan laut maka bintang akan terlihat lebih jelas? atau teleskop luar angkasa Hubble lebih jelas melihat bintang daripada Observatorium Keck di Hawaii karena berada di luar angkasa? Mengapa bisa begitu?

Kedua fakta tersebut akan membawa kita ke satu istilah: ekstingsi.

Ekstingsi adalah penyebaran dan penyerapan gelombang elektromagnetik (dalam hal ini cahaya) oleh gas dan debu diantara objek yang bersinar dan pengamat. Penyebaran dan penyerapan cahaya oleh gas dan debu ini menyebabkan sebagian cahaya tidak sampai ke pengamat sehingga bintang terlihat lebih redup dari yang sebenarnya.

Banyak hal disekitar kita yang dapat membuat efek ekstingsi, atmosfer misalnya. Atmosfer Bumi dapat menyebarkan dan menyerap cahaya sehingga membuat segala objek langit lebih redup dari sebenarnya.

Semakin dekat ke kaki langit, bintang akan semakin redup. Ini disebabkan ketika berada dekat dengan kaki langit, cahaya bintang kan melewati jalur yang lebih panjang dan massa udara yang lebih besar sehingga cahayanya dihamburkan dan diserap lebih banyak 

Namun persentase cahaya yang diserap dan dihamburkan tidaklah tetap dan semakin dekat dengan kaki langit, persentase cahaya yang diserap akan lebih tidak stabil sehingga cahaya bintang akan berkelap-kelip dan lebih sering jika lebih dekat ke kaki langit.

Efek ekstingsi akan lebih besar tergantung seberapa padat dan besar massa gas dan debu yang dilewati cahaya. 

Di Titan, atmosfernya sangat padat dan tebal sehingga membuat efek ekstingsi yang besar yang membuat Matahari menjadi cahaya kabur di angkasa. Sedangkan di Mars yang atmosfernya sangat tipis, efek ekstingsinya sangat kecil.

Mungkin sebagian dari kalian menganggap hal ini adalah hal yang negatif karena lebih sulit melihat bintang di Bumi daripada di luar angkasa.

Namun jika tidak ada ekstingsi, maka langit akan gelap walaupun matahari bersinar di langit dan bintang-bintang bisa terlihat walaupun di siang hari. Mungkin hal itu cukup keren, tapi jika tidak ada ekstingsi, maka kehidupan yang kita ketahui akan musnah oleh radiasi mematikan seperti sinar gamma, sinar-x dan sinar ultraviolet ekstrim yang harusnya tidak bisa mencapai Bumi karena adanya ekstingsi.

Mungkin dalam suatu hal terdapat hal negatif yang mengganggu, tapi didalamnya terpendam positif yang besar.

Atmosfer dan Ekstingsi

Sebagian besar hari-hari di bulan Juli termasuk dalam bulan Ramadhan. Apa yang akan terjadi di atas kita saat kita berpuasa?

Ada apa di langit kita pada bulan Juli 2014?

Astronomy Event - Setiap saat, sesuatu akan terjadi di luar angkasa dan kadang-kadang terjadi fenomena menarik dan unik. Apa saja fenomena menarik di bulan ini?
4 Juli - 9:00 WIB: Bumi akan berada pada titik aphelion (titik terjauh dari Matahari) dengan jarak dari Matahari sekitar 152.098.232 km.
             10:00 WIB: Oposisi Pluto.

5 Juli: Ceres hanya berjarak 10' dari Asteroid Vesta di konstelasi Virgo
          - 19:59 WIB: Bulan berada pada fase perempat awal (separuh awal).
6 Juli - 08:21 WIB: Okultasi Bulan-Mars. Hanya dapat dilihat di Amerika Selatan.
8 Juli - 09:25 WIB: Okultasi Bulan-Saturnus. Hanya dapat dilihat di Chile dan Argentina.
12 Juli - 19:25 WIB: Bulan purnama.

13 Juli: Elongasi Merkurius terbesar sekitar: 20,9 derajat barat dari piringan matahari.
             - 15:27 WIB: Bulan berada pada titik perigee (titik terdekat dari Bumi) dengan jarak dari Bumi sekitar 358.259 km.
14 Juli - 01:39 WIB: Konjungsi Mars dan Spica. Mars dan Spica terpisah sekitar 1,2 derajat di langit.
19 Juli - 09:08 WIB: Bulan berada pada fase perempat akhir (separuh akhir).

25 Juli - 03 WIB: Terjadi konjungsi Matahari dan Jupiter.
.
27 Juli - 05:42 WIB: Bulan baru.
28 Juli - 10:28 WIB: Bulan akan berada pada titik apogee (titik terjauh dari Bumi) paling jauh pada tahun 2014 ini. Jaraknya dari Bumi saat itu sekitar 406.568 km.

30 Juli: Puncak hujan meteor Delta Aquarids Selatan di konstelasi Aquarius dengan ZHR=20.
             - 05 WIB: Merkurius berada pada titik perihelion (titik terdekat dari Matahari).

Ada Apa di Langit Juli 2014?

NASA berhasil menguji teknologi baru yang dapat digunakan untuk mendaratkan pesawat ruang angkasa di planet Mars.


Peluncuran sempat tertunda enam kali akibat angin kencang (NASA).
Astronomy Event - Setelah tertunda sebanyak enam kali pada bulan ini, akhirnya NASA berhasil menguji sebuah teknologi yang bernama Low Density Supersonic Decelator (LDSD) yang berfungsi untuk mendaratkan pesawat luar angkasa ke permukaan Mars.

Sebuah balon helium eksperimental meluncurkan pesawat berbentuk piring cawan yang disebut Low Density Supersonic Decelerator (LDSD) pada kecepatan supersonik hingga 55 kilometer di atas bumi, dimana lingkungan mirip dengan atmosfer Mars yang tipis. 

Sebuah perisai berbentuk donat dan parasut besar dibuka untuk memperlambat kecepatan piring terbang tersebut sebelum mendarat di Samudera Pasifik. 

Diharapkan sistem ini akan memungkinkan pesawat ruang angkasa yang lebih berat bahkan astronot untuk mendarat di Mars. 

Para insinyur NASA mengatakan sebelum uji coba bahwa mereka akan mengumpulkan data berharga untuk mengetahui apakah teknologi pada LDSD dapat bekerja dengan baik atau tidak. 

Tahun depan, NASA akan melakukan dua uji coba lanjutan pada pesawat luar angkasa tersebut di Hawaii.

Teknologi Pendaratan Pesawat di Mars Berhasil Diuji NASA

Meningkatnya sampah antariksa yang mengelilingi planet kita, mengancam satelit-satelit yang masih berfungsi dan juga manusia yang terbang ke antariksa.


NASA mengatakan, terdapat setengah juta sampah antariksa, dengan, 20 ribu di antaranya lebih besar daripada buah apel (AP via VOA Indonesia).

Astronomy Event - Apapun yang kita luncurkan ke orbit mengelilingi Bumi, akhirnya menjadi sampah antariksa. Para ilmuwan mengatakan, meningkatnya jumlah benda-benda tak berguna yang mengelilingi planet kita, mengancam satelit-satelit yang masih berfungsi dan juga manusia yang terbang ke antariksa.

Sebagaimana ditunjukkan secara jelas dalam film "Gravity" yang memenangkan piala Oscar, sampah-sampah antariksa dapat mematikan.

Badan Antariksa Amerika, NASA mengatakan, terdapat setengah juta sampah antariksa, dengan, 20 ribu di antaranya lebih besar daripada buah apel.

Sebagian sampah antariksa itu meluncur dengan kecepatan sekitar 7 kilometer per detik, atau lebih dari 25 ribu kilometer per jam.

Dalam kecepatan itu, bahkan logam sekecil buah ceri impaknya akan sangat besar, kata Wakil Kepala Kantor ESA Space Debris, Holger Krag.

"Pada kecepatan itu, kedua obyek yang bertubrukan akan hancur, dan itu akan buruk bagi kedua obyek itu, dan juga bagi lingkungan, karena akan ada lebih banyak pecahan-pecahan yang dapat menimbulkan tabrakan-tabrakan lagi pada masa depan," ujar Krag.

Para ilmuwan memantau jalur terbang sampah-sampah antariksa dan kadang-kadang menggeser posisi satelit atau bahkan Stasiun Antariksa International untuk menghindari tubrukan.

Tetapi, Holger Krag dari ESA mengatakan, melacak jejak sampah-sampah antariksa yang mengorbit Bumi itu memerlukan sensor yang sangat kuat.

"Komando Strategis Antariksa Amerika Serikat memiliki sensor-sensor itu, peninggalan dari Perang Dingin untuk mendeteksi misil-misil yang datang. Dan itu merupakan suatu jaringan global stasiun radar dan teleskop global di bumi yang terus-menerus mengawasi antariksa setiap waktu," tambah Krag.

Hilangnya komunikasi, GPS atau satelit ilmiah, dapat menimbulkan dampak yang dahsyat, maka ilmuwan mempelajari pilihan-pilihan untuk menyingkirkan sampah-sampah antariksa yang berbahaya itu.

"Itu berarti merencanakan suatu misi ke antariksa, mendekati, bertemu dan menangkap obyek itu, menambatkannya, lalu melakukan gerakan orbit terkendali. Ini akan memerlukan teknologi yang sangat rumit," jelasnya.

Beberapa desain sedang dipertimbangkan, seperti sebuah satelit yang menembakkan partikel-partikel listrik yang memperlambat laju sampah antariksa, dan membuatnya jatuh ke atmosfir dan terbakar.

Obyek-obyek yang lebih kecil dapat ditembak jatuh dengan laser dari bumi, sedangkan obyek besar yang bisa pecah menjadi ribuan serpihan kecil, dapat dibawa turun dengan satelit robot khusus.

Meskipun misi-misi semacam itu bisa menelan biaya sampai 200 juta dolar, Krag mengatakan, mereka seharusnya memulai program itu sesegera mungkin, guna mencegah terjadinya tubrukan yang lebih besar, yang bisa mengakibatkan ribuan lagi serpihan meluncur dalam penerbangan yang mematikan ke bumi.
(National Geographic Indonesia)

Ada Sekitar 500.000 Sampah Luar Angkasa Di Orbit Bumi

Umat Islam sepakat bahwa penentuan awal bulan Islam di dahului dengan fenomena ijtimak atau konjungsi, kedudukan Bulan dan Matahari pada bujur ekliptika yang sama.


Pengurus Nahdatul Ulama saat memantau hilal dari lantai 32 pusat perbelanjaan Season City, Jakarta, Senin (8/7/2013), untuk memutuskan awal Ramadhan 1434 H. (Foto: Dany Permana/Tribun)
Astronomy Event - Kalendar Islam merupakan kalendar Bulan atau kalendar Qamariah murni. Pada zaman Rasullah pengamatan hilal merupakan cara penentuan awal Bulan Islam dan sekaligus merupakan sumber nilai awal "kriteria yang perlu dirujuk" dalam merekonstruksi sebuah kalendar Islam.

Awalnya kalendar Hijriah umat Islam mempergunakan hisab Urfi yang dikenalkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab (17 H or 639 CE). Hisab Urfi merupakan tahapan yang perlu dilalui dan menjadi pelajaran bagi umat Islam, karena ibadah Ramadan dan ibadah Haji merupakan kewajiban ibadah yang tidak bisa menunggu sosok kalendar Islam yang "sempurna". 

Awal Bulan tidak lagi ditentukan lewat rukyat maupun hisab hakiki (menghitung langsung posisi Bulan dan Matahari). Cara semacam ini merupakan cara yang "relatif presisi" pada zamannya. Hisab Urfi merupakan upaya operasional untuk mengetahui awal bulan Islam tanpa mempergunakan pengetahuan tentang posisi Bulan dan Matahari seperti yang dijadikan landasan kalendar taqwim standard maupun kriteria visibilitas hilal. Pemahaman tentang penentuan posisi Bulan dan hilal melewati zaman pandangan "model geosentris" maupun "model heliosentris" alam semesta. Persepsi umat manusia terhadap langit dan benda langit yang dikenal pada waktu itu masih sangat kompleks dan meragukan. Kini model alam semesta tersebut telah lebih sempurna, pengetahuan posisi Bulan yang presisi telah tersedia, sains tentang hilal juga telah berkembang sehingga kontinuitas "jiwa" tradisi rukyat umat Islam sejak zaman Rasulullah dapat diwujudkan dalam hisab imkanur rukyat.

Saat ini umat Islam berada dalam transisi menuju sebuah kalendar dengan hisab hakiki yang presisi dalam mendiskripsikan "hilal". Cara penetapan awal bulan Islam melalui Hisab dan Rukyat merupakan cara yang lebih baik, hisab hakiki untuk mendiskripsikan posisi yang akurat, memandu rukyat, waktu dan posisi saat rukyat akan dilakukan. Karena kalau penentuan awal Bulan ditentukan murni rukyat dalam suasana mendung bisa istikmal terus menerus sehingga bisa mengganggu jumlah hari dalam satu bulan Islam, hanya 29 atau 30 hari saja.
Rukyat diperlukan untuk menetapkan kriteria visibilitas hilal yang lebih presisi. Rukyat hilal terutama untuk daerah batas ambang visibilitas hilal yang diketahui manusia akan berkontribusi pemahaman tentang visibilitas hilal.

Perlunya mendudukkan kembali "hilal sebagai acuan awal Bulan Islam" dalam perspektif rukyat dan hisab. Keragaman kriteria visibilitas hilal yang dipergunakan dalam hisab hakiki, merupakan indikasi dari pemahaman sains hilal yang masih perlu terus dikembangkan dan perlu adanya kesepakatan untuk menjamin kebersamaan dan ketertiban dalam beribadah maupun berhari Raya.

Kalendar Islam taqwim standar, menjadi acuan Negara, kalendar tersebut dihitung mempergunakan hisab hakiki dengan kriteria 2-3-8, tinggi Bulan 2 derajat pada saat Matahari terbenam, jarak sudut Bulan dan Matahari 3 derajat atau usia 8 jam setelah ijtimak. Begitupula hisab hakiki yang presisi dipergunakan ormas Islam di Indonesia, penggunaan kriteria yang berbeda akan menghasilkan penetapan awal Bulan Islam (tidak hanya awal Ramadan, Syawal maupun Dzulhijjah) yang berbeda.

Kriteria 2-3-8 dipergunakan sebagai kriteria kebersamaan dalam menetapkan awal Bulan Islam di wilayah regional, Negara – Negara MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) Langkah kesepakatan kriteria kebersamaan tidak terhenti dalam kriteria 2-3-8, negara anggota telah mengevaluasi kriteria 2-3-8 tersebut dengan hasil rukyat sabit bulan setelah konjungsi atau ijtimak yang tidak berhasil maupun yang berhasil dilihat setelah matahari terbenam atau dengan hasil rukyat diberbagai tempat. Wakil Negara MABIMS pada pertemuan di Jakarta pada tanggal 21 – 23 Mei 2014 telah memberi kritik bahwa kriteria tersebut tidak memenuhi kriteria visibilitas fisik hilal setelah melakukan pengamatan hilal dan kajian kriteria visibilitas hilal. Selain itu dalam pertemuan tersebut juga disampaikan saran – saran agar kriteria 2-3-8 tersebut diubah atau disesuaikan dengan kriteria visibilitas fisik hilal. Walaupun kriteria visibilitas fisik hilal yang diusulkan untuk keperluan kriteria awal bulan Islam masih bervariasi (tidak unik), kajian menyeluruh (komprehensif) serta persiapan perubahan kriteria perlu terus dilakukan sebelum diambil kesepakatannya. Naskah akademik juga perlu disiapkan dalam 2 tahun ke depan, mengingat perjalanan "yang relatif panjang" masih akan ditempuh untuk penyatuan kalendar Islam dalam kawasan Nasional, Regional, Internasional.

Ijtimak dan Gerhana Matahari
Umat Islam sepakat bahwa penentuan awal bulan Islam di dahului dengan fenomena ijtimak atau konjungsi, kedudukan Bulan dan Matahari pada bujur ekliptika yang sama. Bila pada saat ijtimak kedudukan Matahari dekat dengan titik simpul orbit Bulan mengelilingi Bumi dan memenuhi persaratan gerhana maka akan terjadi gerhana Matahari. Jadi tidak semua konjungsi terjadi fenomena gerhana Matahari. Fenomena ijtimak merupakan fenomena geosentrik (acuan pusat Bumi, Bulan dan Matahari) sedang fenomena gerhana Matahari merupakan fenomena toposentrik (acuan pada permukaan Bumi) sehingga terdapat perbedaan waktu pada momen pertengahan gerhana Matahari dengan momen ijtimak. Tahun 2014 terdapat fenomena gerhana Matahari pada Gerhana Matahari Cincin (GMC), GMC 29 April 2014 merupakan Gerhana Matahari ke 21 dari 75 gerhana dalam seri Saros 148. GMC 29 April 2014 bertepatan dengan ijtimak akhir Jumadil Akhir 1435 H yaitu pada hari Selasa tanggal 29 April 2014 pada jam 13:14 wib. Berikutnya adalah gerhana Matahari Sebagian/Parsial (GMS), GMS 23-24 Oktober 2014 merupakan Gerhana Matahari ke 9 dari 70 gerhana dalam seri Saros 153. GMS 23-24 Oktober 2014 bertepatan dengan ijtimak akhir Dzulhijjah 1435 H yang akan berlangsung pada hari Jum'at tanggal 24 Oktober 2014 jam 04:57 wib. Namun gerhana Matahari akhir Dzulhijjah 1435 H tersebut tidak bisa disaksikan dari wilayah Indonesia.

Posisi Bulan Penentuan Awal Bulan Ramadan 1435 H
Sebelum awal bulan Ramadan 1435 H di dahului dengan fenomena konjungsi akhir Sya'ban. Ijtimak akhir Sya'ban 1435 H berlangsung pada hari Jum'at 27 Juni 2014 jam 15:10 wib. Tinggi Bulan saat Matahari terbenam pada tanggal 27 Juni 2014 di wilayah Indonesia (antara + 1 dan -1 derajat) kurang dari 2 derajat, misalnya di Pelabuhan Ratu adalah minus – 0º 2′ 56".3; dalam kondisi semacam ini mustahil untuk bisa berhasil mengamati hilal walaupun langit cerah.

Selain itu, kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam 27 Juni 2014 tersebut belum memenuhi persyaratan kriteria bersama/kesepakatan regional 2-3-8. Jadi bulan Sya'ban 1435 diistikmalkan, kemungkinan 1 Ramadan 1435 H jatuh pada tanggal 28 Juni 2014 setelah maghrib, awal shalat tarawih tanggal 28 Juni 2014 dan awal shaum Ramadan 1435 H, Ahad, 29 Juni 2014. Kepastian penetapan awal Ramadan 1435 H dalam sidang itsbat Jum'at 27 Juni 2014. Insyaallah negara MABIMS secara serempak memulai shaum Ramadan 1435 H pada hari Ahad, 29 Juni 2014.

Pengamatan Hilal di Wilayah Indonesia
Partisipasi luas pengamatan hilal pada waktu sidang itsbat oleh ormas Islam, KEMENAG, lembaga pemerintah BMKG, LAPAN, Observatorium Bosscha ITB, perguruan tinggi, komunitas pemburu hilal di Indonesia sebagian memperoleh fasilitas streaming KOMINFO dan sekaligus juga menjadi masukan dalam sidang itsbat KEMENAG yang dipimpin oleh Menteri Agama RI. Selain itu pengamatan hilal di wilayah Indonesia merupakan upaya yang serius dalam upaya penyatuan kalendar Islam. Pengamatan hilal sesudah itsbat awal Bulan juga masih diperlukan untuk memperoleh informasi ilmiah tentang hilal. Informasi ilmiah pengamatan hilal penting untuk merumuskan kriteria visibilitas fisik hilal yang pada akhirnya memantapkan posisi kalendar Islam dari perspektif Syariah dan sains hilal. Pengamatan sabit Bulan atau hilal pada siang hari diperlukan untuk mengembangkan teknik pengamatan hilal yang lebih baik dan memahami karakteristik serapan angkasa Bumi terhadap pelemahan sabit Bulan yang berada di dekat horison/ufuk barat.

Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadan 1435 H.

Bagaimana Cara Menentukan Awal Ramadhan 1435 H?

Studi ini menemukan astronot tipe kepribadian ekstrovert bisa jadi bermasalah.

Astronot yang akan menjalankan misi ke Mars butuh teknologi yang lebih maju untuk melindungi dari radiasi dan mempercepat perjalanan sehingga paparan radiasi bisa dikurangi (NASA)
Astronomy Event - Studi terbaru NASA mengatakan bahwa astronot yang memiliki sifat ekstrovert akan lebih bermasalah pergi ke luar angkasa sehingga menjadi masalah pengiriman manusia ke Mars

Mereka yang ekstrovert cenderung bawel dan dalam lingkungan kapal yang sempit. Mereka akan minta perhatian berlebih sehingga bisa mengganggu misi ke Mars yang berjalan selama tiga tahun.

Menurut Profesor Suzanne Bell, di DePaul University in Chicago, mereka yang ekstrovert akan bermasalah akan hal itu. Jika satu astronot bawel sementara yang lain tidak mau bersosialisasi maka itu akan mengganggu penerbangan.

NASA tertarik akan isu ini karena perjalanan ke luar angkasa bukan main-main. Studi ini sudah mengambil sampel dari simulasi penerbangan ke luar angkasa di antartika selama 100 hari.

Umumnya ekstrovert bagus untuk kerjasama tim namun kalau dalam lingkungan yang terisolasi malah menurun kemampuannya.

Namun bukan berarti orang ekstrovert tidak boleh jadi astronot sebab yang diperlukan adalah keseimbangan dalam tim astronaut.

Sifat Ekstrovert Bisa Jadi Masalah Perjalanan Luar Angkasa

Adakah peristiwa-peristiwa unik di bulan Juni 2014?

Ada Apa di Langit Juni 2014?

Astronomy Event - Kali ini, sebagian masyarakat dunia akan melihat suatu fenomena astronomi yang terbilang unik dan langka, apa itu?

3 Juni 11:25 WIB: Bulan berada pada titik apogee dengan jarak 404.956 km.

Tripel bayangan transit 3-4 Juni | Universe Today

4 Juni 01:05 - 02:44 WIB: Fenomena langka yang bernama "tripel bayangan transit" terjadi, yaitu dimana 3 bayangan (saat itu Europa, Ganymede dan Callisto) akan tampak pada permukaan Jupiter. Fenomena ini akan terjadi di Eropa Timur dan Afrika (Indonesia tidak).

6 Juni 03:39 WIB: Bulan berada pada fase separuh awal (perempat pertama).

8 Juni 07:44 WIB: Mars hanya berjarak 1,6 derajat dari Bulan.

10 Juni 01:48 WIB: Okultasi Saturnus akan terjadi di Samudra Hindia Selatan. Di Indonesia, Saturnus terlihat 0.7 derajat dari Bulan.

13 Juni 11:11 WIB: Bulan berada fase purnama (iluminasi 100%).

15 Juni 10:34 WIB: Bulan berada pada titik perigee dengan jarak 362.062 km
               19:57 WIB: Jupiter berada pada jarak 6,3 derajat dari Pollux (dekat dengan kaki langit antara barat dan barat laut).

20 Juni 01:39 WIB: Bulan berada pada fase separuh akhir (perempat ketiga).

20 Juni sekitar 06 WIB: Merkurius berada pada konjungsi inferior (Matahari-Merkurius-Bumi berada pada garis lurus).

Ilustrasi Bumi pada saat titik balik matahari Juni.

21 Juni 17:52 WIB: Terjadi Summer Solstice/titik balik matahari musim panas (kemiringan maksimum bumi condong ke matahari) pada belahan bumi utara, dan Winter Solstice/ titik balik matahari musim dingin (kemiringan maksimum bumi menjauhi matahari) pada belahan bumi selatan. Pada saat itu, daerah Jabodetabek mengalami siang selama ~11 jam 45 menit dan malam selama ~12 jam 15 menit (siang terpendek dan malam terlama selama setahun, sementara di belahan bumi utara sebaliknya).

22 Juni: ISS akan memasuki periode iluminasi penuh, beberapa pengamat dari belahan bumi utara bisa melihat ISS dengan jelas. Fenomena ini mungkin kita sebut sebagai "ISS purnama".

23 Juni 20:00 WIB: Jarak Venus ke Pleiades adalah 5,6 derajat di langit. Pengamat Indonesia tidak bisa melihatnya karena Venus dibawah kaki langit.

24 Juni 19:54 WIB: Venus berjarak sangat dekat dengan Bulan di langit, yaitu 1,3 derajat. Lagi-lagi, dari Indonesia mereka berdua berada dibawah kaki langit.

27 Juni 15:09 WIB: Bulan berada pada fase Bulan Baru (iluminasi 0%).
27 Juni: Akan terjadi puncak hujan meteor Bootid dengan ZHR (banyaknya meteor per jam) bervariasi antara 0-100 pada 22:00 WIB. Pada saat itu, Bootid akan berada di langit barat laut sedikit jauh di atas kaki langit. Hujan meteor ini optimal karena pada saat itu Bulan Baru sehingga sinar bulan tidak menghalangi kecemerlangan hujan meteor.

Sepanjang Juni 2014: Jupiter akan tampak sebagai bintang oranye-kekuningan yang terang sangat dekat dengan kaki langit sebelah barat laut setelah senja hari.

Ada Apa di Langit Juni 2014?

Sejak lama, astronom bertanya-tanya, kapan suhu alam semesta mencapai titik terpanas? Kapan pendinginan dimulai?


(Ilustrasi, Thinkstockphotos)
Astronomy Event - Suhu alam semesta tak selalu sama sepanjang waktu. Pada permulaannya, suhu alam semesta meningkat perlahan hingga pada satu titik mengalami hal sebaliknya: mendingin.

Sejak lama, astronom bertanya-tanya, kapan suhu alam semesta mencapai puncaknya? Kapan pendinginan dimulai?

Riset terbaru ilmuwan dari Swinburne University of Technology mengungkap bahwa suhu semesta mencapai puncaknya 11 miliar tahun lalu. Saat itu, suhunya mencapai 13.000 derajat celsius.

Ilmuwan mengungkap suhu awal alam semesta (3-4 miliar tahun setelah terbentuk) dengan mempelajari gas-gas yang ada di medium antargalaksi.

Pada masa-masa awalnya, semesta memanas karena galaksi-galaksi mulai lahir dan memanaskan lingkungan sekitarnya. "Namun, 11 miliar tahun lalu, 'demam' ini sirna dan semesta mulai mendingin lagi," ucap Elisa Boera, mahasiswa Swinburne Center for Astrophysics and Supercomputing.

"Medium antargalaksi adalah perekam sejarah semesta yang baik, menyimpan memori peristiwa besar, seperti suhu, komposisi, dan perbedaannya selama evolusi semesta," imbuh Boera.

Sementara itu, Boera juga mengoleksi cahaya paling biru yang ditransmisikan oleh atmosfer Bumi, sinar ultraviolet dari 60 kuasar.

Sinar ultraviolet itu berasal dari perkembangan alam semesta selanjutnya. Dengan demikian, ilmuwan bisa mengetahui suhu alam semesta pada perkembangan selanjutnya.

"Sinar itu menunjukkan bahwa semesta mendingin sekitar 1.000 derajat Celsius dalam 1 miliar tahun setelah mencapai titik tertinggi 13.000 tahun lalu," kata Boera. Boera mengungkapkan bahwa pendinginan itu terus berlangsung sampai sekarang.

Apa sebab pemanasan dan pendinginan? Michael Murphy dari Swisburne University yang juga terlibat riset mengatakan, "Kami pikir jawabannya adalah helium."

Murphy mengatakan, 14 persen dari gas antargalaksi adalah helium. Dan, pada 12 miliar tahun lalu, gas itu menyerap radiasi dari galaksi, kehilangan elektron dalam prosesnya.

Elektron itulah yang kemudian memanaskan gas, persis seperti bagaimana karbon dioksida membuat Bumi semakin panas. Dalam prosesnya, hidrogen terus terionisasi. Semesta juga terus mengembang. Alhasil, setelah suhu alam semesta mencapai titik terpanasnya itu pun, semesta mendingin.

11 Miliar Tahun Lalu Terjadi "Pemanasan Universal"

Bintik merah raksasa tersebut merupakan badai atmosferik permanen yang diketahui terjadi di belahan selatan Jupiter selama 400 tahun.


Penyusutan bintik merah raksasa yang diamati pada tahun 1995, 2009 dan 2014 (NASA, ESA, & A. Simon/Goddard Space Flight Center).
Astronomy Event - Jika kita mengamati Jupiter, maka ada bintik raksasa yang menjadi ciri khas planet terbesar di Tata Surya tersebut. Bintik merah raksasa tersebut merupakan badai atmosferik permanen yang diketahui terjadi di belahan selatan Jupiter selama 400 tahun. 

Badai tersebut pertama kali dilihat oleh Giovanni Cassini pada akhir 1600-an atau sekitar tahun 1665 meskipun para ilmuwan meragukan karena pada sata itu, badai tersebut baru saja terbentuk. Cakupan badai raksasa ini cukup luas. Seratus tahun lalu, badai raksasa tersebut meliputi area seluas 40.000 kilometer dan tampaknya saat ini badai tersebut menyusut dan dipekirakan pada tahun 2040 badai yang tadinya berbentuk oval akan tampak berbentuk lingkaran.

Tapi apakah terjadi percepatan? Pengamatan terbaru dari Teleskop Hubble milik NASA/ESA menunjukkan kalau penyusutan yang terjadi tampaknya mengubah ukuran badai tersebut dengan cukup mencolok. Setidaknya saat ini badai tersebut tampak pada ukurannya yang paling kecil yang pernah diamati.

Badai antisiklon berputar di planet gas raksasa tersebut tampak seperti mata merah tua mencolok yang melekat pada lapisan berputar yang berwarna kuning pucat, oranye dan putih. Badai di Jupiter tersebut mengamuk dengan kecepatan yang sangat tinggi, mencapai beberapa ratus kilometer per jam.

Pengamatan di akhir tahun 1800-an menunjukkan kalau bintik tersebut memiliki diameter yang cukup lebar yakni 41000 km. Ukuran itu cukup untuk mengisi 3 Bumi di dalamnya. Di tahun 1979 dan 1980, wahana Voyager milik NASA yang melakukan Flyby melakukan perhitungan dan memperlihatkan kalau bintik tersebut memiliki diameter 23.335 kilometer.

Pengamatan terakhir Hubble menunjukkan ukuran yang jauh lebih kecil dari sebelumnya yakni kurang dari 16.500 kilometer. Ukuran ini merupakan diameter terkecil dari Bintik Merah Raksasa yang pernah diamati. Tapi kondisi ini seharusnya sesuai dengan fakta pengamatan astronom amatir yang menunjukkan bahwa sejak tahun 2012 terjadi peningkatan laju penyusutan sekitar kurang dari 1.000 km/jam. Sayangnya, penyebab penyusutan masih belum diketahui.

Dalam pengamatan terbarunya, Teleskop Hubble melihat ada pusaran kecil yang masuk ke dalam badai dan diperkirakan pusaran inilah yang mengubah dinamika internal bintik dan memicu terjadinya perubahan percepatan.

Bintik Merah Raksasa Jupiter Mengalami Penyusutan

Nebula Homunculus merupakan salah satu nebula tipe emisi yang indah, tapi pertanda akan munculnya ledakan maha dahsyat.


Nebula Homunculus | NASA

Astronomy Event - Dari kejauhan 7.500 tahun cahaya (70.906.804.000.000.000 Km) dari permukaan Bumi di konstelasi Carina, ada sebuah awan kemerahan yang menyelimuti sebuah titik biru terang. Awan tersebut adalah Nebula Homunculus dan yang diselimutinya adalah bintang sekarat yang dinamakan Eta Carinae.

Nebula Homunculus dipercaya sebuah gas yang dimuntahkan oleh Eta Carinae. Cahaya dari kejadian ini sampai ke Bumi pada tahun 1841, menghasilkan cahaya yang sangat terang dan menjadikan Eta Carinae bintang paling terang di langit malam kedua setelah Sirius.

Nebula berbentuk seperti kacang ini membesar menjauhi Eta Carinae dengan kecepatan 670 km/detik, 1.600 kali lebih cepat daripada peluru. Sekarang, terangnya nebula ini hanya memiliki magnitudo 6,21, redup tapi masih bisa dilihat oleh mata telanjang, tapi akan lebih baik dilihat oleh binokuler atau teleskop.

Sangat indah, namun menjadi pertanda akan adanya ledakan maha dahsyat dari asalnya. Eta Carinae merupakan bintang yang sedang berada di masa akhir hidupnya dan tidak stabil. Bintang ini begitu tidak stabil sehingga suatu saat akan menimbulkan angin bintang yang begitu kuat hingga merobek lapisan luarnya dan memuntahkannya ke angkasa. 

Diperkirakan ribuan tahun kedepan bintang ini akan meledak sebagai hipernova, ledakan yang lebih besar daripada supernova.

Ingin menambahkan nebula "kacang" sebesar tata surya yang indah ini dalam menu observasi kalian?

Nebula Homunculus, Sebuah Hasil Erupsi Eta Carinae

Kita mengatakan panjang tahun di Bumi adalah 365 hari, tapi mengapa kita tahu?

Orbit Bumi

Astronomy Event - Jika kita mengatakan panjang satu tahun adalah 365 hari di Bumi, mungkin kita harus bertanya "apa itu tahun?". Satu tahun adalah periode waktu yang dibutuhkan suatu benda untuk mengorbit benda lain. Jadi satu bulan Bumi sama dengan "tahun bulan" (27.3 hari).

Di Bumi sendiri, ada beberapa cara yang berbeda untuk menentukan tahun. Ada 3 cara yang dibahas di sini.

Waktu yang dibutuhkan untuk kemiringan sumbu Bumi untuk kembali ke sudut yang sama relatif terhadap matahari atau waktu yang dibutuhkan untuk matahari melintasi garis ekliptika dalam satu putaran penuh disebut sebagai tahun tropikal (365,24219 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 45 detik)

Waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengorbit satu putaran penuh relatif terhadap matahari atau suatu bintang yang terbit dari belakang matahari untuk terbit lagi disebut sebagai tahun sidereal (365,256363004 hari atau 365 hari 6 jam 9 menit 9,76 detik) .

Waktu yang dibutuhkan Bumi yang berada di perihelionnya untuk berada di titik perihelionnya selanjutnya disebut sebagai tahun anomalistik.(365,259636 hari atau 365 hari 6 jam 13 menit 52,6 detik)

Ketiga tahun ini memiliki panjang tahun yang berbeda, tapi kebanyakan kalender kita sekarang mengikuti tahun tropikal, karena durasinya didefinisikan oleh kemiringan sumbu Bumi dan juga menentukan berjalannya musim.

Setiap planet atau objek di alam semesta memiliki panjang tahun yang berbeda-beda, misalnya Merkurius memiliki panjang tahun kira-kira 88 hari Bumi, tahun Jupiter kira-kira 12 tahun Bumi, tahun Saturnus kira-kira 29.5 tahun Bumi, tahun Neptunus kira-kira 165 tahun Bumi, dan tahun galaktik (periode waktu yang dibutuhkan tata surya untuk mengelilingi pusat Galaksi Bimasakti satu putaran penuh) kira-kira 225 juta tahun.

Berbagai macam tahun digunakan untuk berbagai kepetingan masing-masing. Mungkin kalian akan menggunakan salah satu diantaranya?


Apa itu Tahun?

Mungkinkah manusia hidup di planet ini? Karena GU Psc b merupakan planet gas, jawabannya jelas tidak.


Manusia bisa hidup di Bumi selama puluhan tahun. Namun, bila manusia hidup di planet GU Psc b, umurnya takkan sampai sehari! Apa sebabnya?

GU Psc b adalah planet yang mengorbit bintangnya dengan jarak yang super jauh, 2.000 kali jarak Bumi-Matahari, atau sekitar 300 miliar kilometer.

Akibat jarak yang jauh, waktu yang diperlukan oleh planet itu untuk mengorbit bintangnya, GU Psc, jauh lebih lama. Setahun di planet itu sama dengan 80.000 tahun di Bumi.

GU Psc dan GU Psc b adalah bintang dan planet yang ditemukan oleh Marie-Eve Naud, pelajar doktoral dari Universitas Montreal di Kanada.

Naud melakukan pengamatan pada kluster bintang bernama AB Doradus, kluster yang terdiri dari bintang-bintang berusia 100 juta tahun yang mengelompok dan bergerak bersama.

Pengamatan dilakukan di Observatoire Mont-Megantic. Hasil penelitian dipublikasikan di The Astrophysical Journal.

GU Psc b adalah planet gas raksasa, berukuran 9 - 13 kali Jupiter. Jadi, ukurannya jauh lebih besar dari Bumi. Rene Doyon, direktur dari Observatoire Mont-Megantic, mengungkapkan, "GU Psc b benar-benar merupakan hadiah alam."

Dengan jarak yang super jauh dari bintangnya, planet ini bisa diobservasi dengan beragam instrumen sehingga memungkinkan ilmuwan memahami lebih banyak tentang planet gas raksasa.

Sementara itu, Etiene Artigau, salah satu supervisor Naud, mengatakan, "Planet ini adalah keanehan dalam sistem keplanetan."

Ia bersama mahasiswa dan sejumlah rekan mengamati lebih dari 90 bintang dan hanya menemukan satu planet.

Mungkinkah manusia hidup di planet ini? Karena GU Psc b merupakan planet gas, jawabannya jelas tidak.

Meskipun demikian, planet ini memberi gambaran tentang betapa kecilnya Tata Surya dan uniknya masing-masing sistem keplanetan yang ada di alam semesta.

Sebelumnya, sempat ditemukan tata surya paling ramping di alam semesta di mana lima planet bergerombol di dekat bintangnya.

Di Planet Ini, Setahun Sama Dengan 80 Millenium

Mesin kontrol roket itu gagal 545 detik setelah lepas landas, dan roket jatuh kembali ke Bumi.

Roket Proton Rusia membawa satelit komunikasi AS ke orbit (RIA Novosti)
Astronomy Event - Sebuah roket Proton Rusia yang membawa satelit buatan Eropa jatuh kembali ke Bumi, pada hari ini, Jumat (16 Mei 2014), tak lama setelah lepas landas.

Insiden ini merupakan kecelakaan terbaru yang menghantam industri antariksa yang pernah menjadi kebanggan negara tersebut.

Sejumlah pejabat antariksa Rusia mengatakan, mesin kontrol roket itu gagal 545 detik setelah lepas landas dari pusat ruang angkasa Baikonur di Kazakhstan yang disewa Moskwa.

Televisi pemerintah memperlihatkan roket itu dan satelit komunikasi Express-AM4P yang dilaporkan bernilai 29 miliar dollar AS terbakar di lapisan atas atmosfer di atas Samudera Pasifik. "Kami menghadapi sebuah situasi darurat," kata seorang komentator penerbangan Rusia di televisi Channel One. "Penerbangan ini telah berakhir," tukasnya.

Badan antariksa federal Rusia, Roscosmos, mengatakan pihaknya telah membentuk komisi khusus "untuk menganalisa data telemetrik dan menemukan alasan bagi situasi darurat tersebut."

Channel One mengatakan, satelit itu, yang dibangun buat Rusia oleh perusahaan Airbus Group, Astrium, dimaksudkan untuk menyediakan akses internet bagi wilayah Rusia pedalaman yang punya akses buruk untuk komunikasi.

Sebelumnya, pada Oktober 2013, Rusia memecat Kepala Roscosmos, Vladimir Popovkin, setelah kurang dari dua tahun menduduki posisi itu, karena serangkaian kegagalan peluncuran dan insiden memalukan lain dalam industri antariksa yang kekurangan dana tetapi sangat dibanggakan negara itu.

Kepala Roscosmos yang baru, Oleg Ostapenko, telah ditugaskan Presiden Vladimir Putin untuk merombak seluruh sektor dengan dana miliaran dolar yang berasal dari kas negara.

Roket Proton Buatan Rusia Gagal Meluncur

Seorang animator membuat video perumpamaan seperti apa wajah Saturnus tatkala mendekati Bumi kita.


Bila sangat dekat dengan Bumi, Saturnus, planet gas raksasa kedua terbesar di Tata Surya itu bakal lebih terang dari bulan purnama. (Foto: Yeti Dynamics)

Astronomy Event - Saturnus, si planet bercincin, tak terkira indahnya. Bagaimana bila Saturnus mendekati planet kita? Seperti apa wajahnya?

Nick, seorang animator lewat Yeti Dynamics, membuat sebuah video untuk menggambarkan wajah Saturnus apabila memang mendekati Bumi. Video diunggah di Youtube, 3 Mei 2014 lalu.

Bila saja Saturnus berada di tempat yang kini dihuni Mars, 225 juta kilometer dari Bumi, planet gas raksasa kedua terbesar di Tata Surya itu akan lebih terang dari bulan purnama.

Cerlangnya Saturnus terjadi karena planet itu mampu memantulkan sinar Matahari 4 kali lebih banyak dari Bulan.

Walau saturnus tetap akan tampak lebih kecil dari Bulan, manusia di Bumi bakal bisa melihatnya tanpa teleskop, termasuk mengobservasi bulannya—Titan.

Bila Saturnus bergerak lebih dekat lagi, maka planet itu bakal mampu menerangi bagian gelap Bulan. Bahkan, manusia bisa melihat umbra dan penumbra Bumi.

Mengabaikan gravitasi, jika Saturnus terus bergerak mendekat, manusia bakal bisa melihat sisi gelapnya. Cincin Saturnus bakal terlihat berbeda. Tentu saja, video tersebut hanya pengandaian. Saturnus tetap nyaman di orbitnya, berjarak paling dekat 1,3 miliar kilometer dari Bumi.

Saturnus tidak akan bergerak hingga mencapai wilayah Mars, apalagi sangat dekat sehingga tampak seperti dalam video Nick. Saturnus bisa dilihat dengan mata telanjang, tampak berupa titik kecil. Untuk observasi lebih detail, manusia harus menggunakan teleskop.

Mendekati Wajah Saturnus

Dalam pencarian planet habitat baru maka yang harus dicari adalah tanda-tanda dari komponen petunjuk kehidupan di Bumi yakni air, oksigen, dan klorofil.


Mencari tanda-tanda kehidupan Bumi pada planet kembar ekstrasolar. (Kredit: PHL, UPR Arecibo)
Astronomy Event - Dalam 20 tahun semenjak eksoplanet berhasil dideteksi, astronom terus mencari planet saudara kembar Bumi yang sedang mengorbit bintang lain. Impiannya tetap sama: menemukan planet habitat baru.

Kalau memang mencari planet "Bumi yang lain", maka tentu yang diharapkan adalah planet dengan air yang berlimpah, gas oksigen dalam jumlah besar dan klorofil atau sesuatu yang serupa dengan klorofil.

Mengapa air, oksigen dan klorofil penting? Kalau manusia ingin menemukan kehidupan seperti yang dikenal di Bumi maka tentu yang harus dicari adalah tanda-tanda dari komponen pendukung kehidupan yang ada di Bumi. Tanpa mengenali komponen penting yang mendukung kehidupan di Bumi di planet asing itu, bagaimana kita bisa tahu dan menebak bahwa disana mungkin ada kehidupan?

Karena itu para astronom saat ini masih fokus mencari planet yang bisa mendukung keberadaan lautan atau air dalam wujud cair di permukaan planet.

Beberapa planet laik huni berdasarkan lokasinya di area laik huni bintang memang sudah ditemukan. Dan diyakini masih ada banyak planet kebumian yang berada di area laik huni bintang yang belum terdeteksi.

Namun ada pertanyaan lain. Seandainya suatu waktu kelak manusia menemukan planet serupa Bumi mengorbit bintang lain dan di sana ada air, oksigen dan klorofil, bagaimana para astronom bisa mengenali ketiga tanda pendukung kehidupan tersebut?

Timothy Brandt dan David Spiegel dari Institute for Advanced Study at Princeton University, New Jersey melakukan penelitian dan pemodelan untuk mengenali kehadiran komponen-komponen pendukung kehidupan tersebut di masa depan saat teleskop diarahkan pada planet yang jadi kembaran Bumi.

Para astronom juga menyadari bahwa molekul seperti air, oksigen dan ozon memiliki efek pada cahaya – ketiganya menyerap cahaya pada panjang gelombang antara 500 - 1000 nanometer (dari hijau ke dekat inframerah). Molekul-molekul tersebut merupakan penyerap yang paling menonjol di rentang spektral tersebut, sekaligus juga merupakan tanda penting yang bisa memberi petunjuk kehidupan kebumian.

Selain itu, pada area 1 - 4 mikrometer, spektrum Bumi didominasi oleh fitur serapan air dan beberapa fitur lebar yang tumpang tindih yang dihasilkan oleh karbon dioksida dan metana. Seandainya saja ada exoplanet yang serupa Bumi, maka cahaya bintang yang dipantulkan permukaan planet akan memiliki tanda dari gas tersebut.

Untuk bisa mengatahui apakah tanda-tanda kehadiran air, oksigen dan ozon bisa dideteksi atau tidak, Timothy Brandt dan David Spiegel membangun pemodelan yang bisa menunjukkan bagaimana cahaya akan dipantulkan dari permukaan planet serupa Bumi tersebut.

Untuk kebutuhan pemodelan, dibangun studi kasus untuk planet dengan beberapa kondisi. 
Yang pertama adalah planet es dan padang gurun sedangkan model lainnya adalah Bumi dengan daratan, vegetasi dan lautan. Pada kedua model tersebut, diterapkan juga studi perbandingan jika keduanya diliputi awan yang menutupi 50 persen permukaan planet dan planet tanpa awan.

Dari kedua model tersebut, mereka bisa menghitung efek yang ditimbulkan molekul-molekul tersebut pada spektrum pantulan cahayanya.

Hasil pemodelan yang dilakukan ternyata sangat menarik. Air menjadi molekul yang paling mudah dikenali. Tapi agar teleskop landas angkasa bisa mengenalinya, dibutuhkan kemampuan untuk mengatasi kontras antara planet dan bintang induknya. Teleskop juga harus mampu untuk mengenali spektrum pantulan dari planet dan bisa memisahkannya dari pita serapan air. Untuk bisa mengenali air, teleskop landas angkasa yang ada sata ini sudha memiliki kemampuan tersebut.

Kalau air mudah dikenali, tidak demikian dengan oksigen. Perhitungan Timothy Brandt dan David Spiegel menunjukan kalau astronom membutuhkan teleskop landas angkasa yang memiliki kemampuan lebih baik dari yang ada sekarang. Selain itu, untuk bisa mendeteksi oksigen juga dibutuhkan kemampuan 3 kali lebih baik dari pendeteksian air.

Yang lebih susah lagi adalah untuk mengenali klorofil. Spektrum yang dipantulkan Bumi mengandung "tepi merah" yang dihasilkan oleh penyerapan cahaya merah oleh kloforil. Pertanyaannya, apakah molekul serupa klorofil bisa bekerja pada panjang gelombang yang berbada?

Jika tidak, maka tanda keberadaan klorofil akan sangat sulit dikenali dan untuk itu, perancangan misi masa depan harus lebih sensitif untuk mengenali klorofil asing di dunia baru.

Menurut Timothy Brandt dan David Spiegel, perancangan misi masa depan harus dimulai dari pencarian air dan oksigen pada planet-planet yang punya kemiripan dengan Bumi dan pencarian klorofil akan menjadi pekerjaan rumah bagi misi di masa depan.

Mencari Petunjuk Kehidupan Di Luar Bumi

Kita mengatakan hari sebagai lamanya bumi berputar pada porosnya satu kali yaitu 24 jam. Namun panjang hari di Bumi semakin lama semakin panjang.

Ilustrasi Bumi yang berputar pada porosnya | Wikimedia

Astronomy Event - Hari ini, detik ini, jika kita bertanya berapa panjang hari, semua orang akan bilang 24 jam. Tapi, jika kita bertanya dengan pertanyaan yang sama pada orang-orang di masa lalu dan masa depan, mereka tidak akan menjawab 24 jam. Mengapa bisa begitu?

Panjang hari di masa lalu, sekarang dan di masa depan berbeda karena rotasi Bumi melambat setiap waktu, membuat panjang hari semakin panjang. Hal ini disebabkan oleh gaya pasang surut dari gravitasi Bulan. Gaya ini menghambat rotasi Bumi

Panjang hari di masa lalu dan di masa depan
4.54 miliar tahun lalu, debu dan batu-batu asteroid mengumpul dan memadat karena gaya gravitasi dan pada akhirnya membentuk planet yang kita sebut sebagai Bumi.

Namun saat 4.45 miliar tahun lalu, Sebuah planet seukuran Mars bernama Theia (Theia dalam mitologi Yunani adalah ibu dari dewi Bulan) menabrak bumi. Tabrakan tersebut melontarkan trilliunan ton batuan ke angkasa. Pada akhirnya, gravitasi membuat batuan-batuan tersebut membentuk cincin di sekitar Bumi dan mengumpul akibat gravitasi untuk membentuk Bulan.

Tabrakan tersebut membuat Bumi berputar lebih cepat (Sama halnya jika kita memberikan gaya searah dengan arah rotasi sebuah globe membuat globe berputar lebih cepat.). Saat itu, matahari akan terbenam hanya 2,5 jam setelah terbitnya, artinya panjang hari Bumi hanya 5 jam.

Gaya pasang surut Bulan memperlambat rotasi Bumi setiap saat. 1.5 milliar tahun lalu saat koloni bakteri yang di sebut Stromatolites memompa oksigen ke atmosfer, panjang hari di Bumi adalah 16 jam. 540 juta tahun lalu, saat ledakan spesies zaman cambrian, panjang hari adalah 20 jam. Dan saat dinosaurus mendominasi Bumi, panjang hari adalah 23 jam.

Gaya pasang-surut (atau gravitasi) Bulan memperlambat rotasi Bumi

Perlambatan rotasi bumi akan terus berlangsung hingga 270 miliar tahun kedepan, Bumi akan berputar sama cepatnya dengan gerak Bulan mengelilingi Bumi, berarti satu sisi Bumi selalu menghadap Bumi (hal ini di sebut sebagai tidal locking). Saat itu panjang hari di Bumi sama panjang dengan kala revolusi Bulan (27,3 hari/siang dan malam masing-masing berlangsung hampir 2 minggu).

Namun, tidal locking diperkirakan tidak akan terjadi karena Bulan semakin menjauh dari Bumi sehingga kecepatan melambatnya rotasi Bumi semakin turun.

Bulan sudah mengalami tidal locking, menyebabkan panjang hari dan kala revolusinya sama (27,3 hari). Tidal locking di Bulan mungkin akibat gaya pasang surut dari gravitasi Bumi. Jika itu benar maka gaya pasang surut dari Bumi 6 kali lebih besar akan memperlambat rotasi Bulan 6 kali lebih cepat dari Bumi sehingga Bulan mengalami tidal locking lebih cepat dan menjadi contoh tidal locking terdekat dari Bumi.

Saat ini, panjang hari di Bumi akan lebih panjang 1.4 milidetik (0.0014 detik) per 100 tahun. Apakah kalian bisa merasakan hari menjadi lebih lama? Sepertinya tidak.

Bumi Berputar Semakin Lambat

Rocket

Rp250.000,-   Rocket SEKALI INSTALL DI BLOGSPOT RATUSAN PRODUK SIAP HASILKAN UANG Senjata Para Pebisnis Affiliate TAHUKAH ANDA BAHWA - Siapa...

Subscribe Our Newsletter